Nyepi selalu menjadi sebuah hari sakral bagi umat Hindu, khususnya di Bali. Bagaimana tidak, Nyepi mampu menghentikan hampir seluruh aktivitas di pulau ini. Pertokoan, jalan, pasar, bahkan bandara sekelas Ngurah Rai pun dapat berhenti beroperasi dalam rangka perayaan Nyepi. Namun itukah esensi nyepi yang sesungguhnya?
Secara umum, umat hindu bisa saja berteori bahwa dalam perayaan Nyepi, akan ada Catur Brata Penyepian. Keempat Brata tersebut meliputi Amati karya (tidak bekerja), Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Lelungan (tidak bepergian) dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang). Pertanyaannya, sudahkah itu diimplementasikan secara nyata?
Tulisan ini hanya sebuah otokritik bagi penulis, maupun umat hindu pada umumnya. Nyepi dari tahun ke tahun selalu sama. Kondisi lingkungan akan begitu lengang, dan hanya ada beberapa pecalang atau polisi yang berkeliling memantau situasi. Namun keadaan tersebut belum tentu menunjukkan bagaimana perayaan nyepi di rumah-rumah warga sesungguhnya.
Saya yakin masih ada beberapa keluarga yang masih belum terbiasa untuk memaknai catur brata penyepian. Dari pengalaman penulis, masih ada keluarga yang sibuk beraktifitas di dalam rumah, atau bahkan menghidupkan musik yang tanpa disadari dapat menggangu umat hindu lainnya. Beruntung sejak dua tahun terakhir, KPID Bali menghimbau stasiun televisi nasional untuk menghentika siaran di Bali, sehingga masyarakat Bali tetap tenang dalam perayaan hari Nyepi.
Tidak hanya itu, perilaku konsumtif masih tetap saja menjadi momok bagi perayaan brata penyepian, termasuk saya. Dalam hal ini penulis mengartikan konsumtif sebagai sebuah tindakan berfoya-foya. Ini tidak lepas dari kebiasaan dan faktor pola pikir keluarga masing-masing. Dengan dihadapkan pada berbagai jenis makanan pasca hari raya, sulit untuk membendung keinginan itu.
Bila harus diuraikan lebih mendalam, masih banyak kebiasaan keluarga yang belum menunjukkan makna nyepi yang sesungguhnya. Pada dasarnya nyepi atau sipeng adalah bentuk bersamadhi. Nyepi dimaknai dengan melihat diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai dengan hidup tenang, dengan melakukan upawasa (berpuasa), mona brata (brrata diam), dhyana (pemusatan pikiran) dan arcanam melakukan pemujaan terhadap Sanghyang Widhi)
Beranjak dari otokritik inilah, penulis ingin mengajak umat hindu untuk lebih peduli pada Nyepi itu sendiri. Jangan sampai akibat pembiaran yang terus-menerus terjadi, Nyepi semakin jauh dari esensi yang sesungguhnya. Ingat, Nyepi Tak Hanya Sekedar Sepi.. :)



Posted in: