Showing posts with label SEJARAH MENCATAT. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH MENCATAT. Show all posts

Hari Lahir Bung Karno, 6 Juni 1901 dan Implementasi Kebangsaan sesuai UUD 1945

Tanggal 6 Juni adalah hari lahir tokoh besar Indonesia, Soekarno. Hingga kini, belum ada yang bisa menandingi sosoknya yang begitu banyak dibicarakan dunia pada masanya. Dia dikagumi dan dipuja negara-negara di tiga benua, Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Bahkan, di Eropa Timur pun nama Soekarno sangat populer dan harum.            

Kebangkitan negara-negara Amerika Latin pada awal milenium ini menurut pengakuan para pemimpin mereka juga karena diinspirasikan oleh Soekarno: menolak kapitalisme yang mengisap habis darah negara-negara kaya sumber daya alam, tapi lemah dalam dana dan tekhnologi. Diawali Chaves dan Moralles, menyusul Presiden Paraguay Lugo mengaku penganut ajaran Soekarno. 

Jelas, Soekarno pada masanya adalah tokoh yang menggetarkan dunia. Ketika banyak negara imperialis pemenang Perang Dunia II yang mensponsori berdirinya PBB masih bermimpi tentang kesepakatan Perjanjian Postdam, yaitu memperoleh kembali haknya atas tanah jajahannya, dengan lantang Soekarno berkata: ''Kami yang tidak bersuara pada masa yang lampau tidaklah tanpa suara sekarang.''       

''Kami yang berdiam diri pada masa imperialisme, tidaklah berdiam diri sekarang. Kami yang berdiam diri akibat kesengsaraan karena imperialisme, tidaklah berdiam diri lagi. Perjuangan kami untuk hidup yang ditutupi jubah kolonialisme, sekarang tidak bersembunyi lagi.'' Soekarno mengingatkan bahwa dunia sudah berubah sejak 1945 dan dunia berubah menuju arah perbaikan. (Pidato Soekarno di PBB itu pada 30 September 1960: To Build the World Anew).

Tetapi, di negeri sendiri sosok Soekarno ibarat asing dan terlupakan. Di bawah rezim Orde Baru yang cenderung dekat dengan negara-negara kapitalis, jati diri Soekarno dan Hatta nyaris tergerus. Nama mereka seakan hanya mendapat pengakuan saat membaca teks proklamasi. Selain itu, mereka bukanlah apa-apa, bukanlah siapa-siapa. 

Generasi sekarang lebih tahu di mana kali pertama Presiden AS Barack Hussein Obama bersekolah, tetapi tidak tahu di mana sebenarnya Bung Karno dilahirkan. Sebagian besar mengatakan, Bung Karno dilahirkan di Blitar. Konyolnya, jawaban seperti itu pun diucapkan anak-anak Surabaya.           

Dalam semua penulisan biografi Soekarno sebelum 1970, semua menulis Soekarno lahir di Surabaya. Akhir 1900, R Soekeni Sosrodihardjo (ayahanda Soekarno) dipindahtugaskan dari Singaraja, Bali, sebagai guru di Sekolah Rakyat Sulung, Surabaya. Istrinya, Nyoman Rai Srimben, dalam keadaan hamil muda. Di Surabaya itulah Nyoman Rai Srimben melahirkan seorang putra yang diberi nama Kusno pada 6 Juni 1901.        

Buku-buku biografi itu, antara lain, Soekarno sebagi Manoesia (Im Yang Tjoe, penerbit Ravena, Solo 1933), dan Kamus Politik (AM Adinda/Usman Burhan, penerbit Ksatrya, Surabaya, 1950. Tiga terbitan ensiklopedi, yaitu Ensiklopedia Indonesia 1955, NV penerbit W. Van Hoeve, Bandung. 'S - Gravenhage: (djilid III N-Z) halaman 1.265; Ensiklopedi Indonesia (edisi khusus, jilid 6 SHI - VAJ) terbitan PT Ichtiar Baru, Van Hoeve, Jakarta 1986; dan Ensiklopedi Nasional Indonesia (jilid 15 SF-SY) penerbit Delta Pamungkas, Jakarta, 1997, halaman 311. Tiga ensiklopedi itu menulis Soekarno kelahiran Surabaya, 1 Juni 1901.  

Buku-buku Soebagijo I.N. (Pengukir Jiwa Soekarno), Solichin Salam (Bung Karno Putra sang Fajar), Nurinwa Ki S. Hendrowinoto Dkk (Ayah Bunda Bung Karno, penerbit Republika 2002), dan Nasution M.Y. (Riwayat Ringkas, Penghidupan dan Perjuangan Ir Soekarno) bahkan mencantumkan alamat tempat Bung Karno dilahirkan, yaitu di Kampung Pandean IV/40, Surabaya.            
***
Media massa sekarang lebih sering menulis Soekarno kelahiran Blitar. Sayangnya, media dan TV terbesar di ibu kota berkali-kali merilis Blitar sebagai kota kelahiran Bung Karno. Itulah yang mungkin menjadi rujukan bagi generasi kini. Sebaliknya, para penulis asing masih tetap konsekuen dan cermat menulis Surabaya sebagai kota kelahiran Bung Karno. Lambert Giebels untuk menulis bukunya, Soekarno, Biografi 1901-1950 melacak sampai ke lokasi Bung Karno dilahirkan.

Penulis asing umumnya yang mengutip sumber arsip di Leiden (Belanda) otentik sebagaimana tertulis dalam ijazah dan berkas perkara Bung Karno ketika diadili. Sebagian merujuk kepada Cindy Adams (Soekarno, an Autobiografi as told to Cindy Adams, edisi bahasa Inggris 1966). Bob Hering (Soekarno, Mitos dan Realitas - 1986), penulis Belanda yang dekat dengan Bung Karno, juga menulis Soekarno lahir di Surabaya.           

Biografi Soekarno terbaru yang di-launching tahun lalu adalah Soe­karno Politicheswkaya Biografiya (SOEKARNO, Biografi Politik), Moskwa Mysl, 1980. Prof Kapitsa M.S. & Dr Maletin N.P. , (1980), terjemahan dari bahasa Rusia, B. Soegiharto PhD penerbit Ultimus, 2009. Di halaman 9 jelas tertulis: Soekarno dilahirkan di Jawa, Surabaya, pada 6 Juni 1901.    

Sedangkan Blitar adalah tempat penugasan terakhir Soekeni Sosrodihardjo ketika dipindahkan dari Mojokerto dan dipromosikan sebagai penilik sekolah pada 1917. Ketika itu, Bung Karno kos di rumah H.O.S. Tjokroaminoto.   

Pada 1920, dibelilah rumah yang sekarang dikenal sebagai rumah orang tua Bung Karno di Blitar. Pada tahun itu, Bung Karno sudah masuk THS (Sekolah Tinggi Teknik, sekarang ITB) di Bandung dan membawa serta istrinya, Siti Oetari. Jadi, praktis Bung Karno tidak pernah tinggal di Blitar selain beberapa kali berkunjung dan sungkem kepada kedua orang tuanya di sana.
***
Yang perlu disinggung dalam proses kreativitas Soekarno bahwa pada masa kecil Bung Karno beberapa tahun mengikuti kakeknya, Hardjodikromo, di Desa Kepatihan, Tulungagung. Di sana dia berkenalan dengan dunia pewayangan. Di situ pula Bung Karno kali pertama masuk sekolah, belajar mengenal angka dan huruf, serta mengidentikkan dirinya dengan tokoh Bima, yang kemudian nama itu dipakai sebagai nama samaran dalam tulisannya.      

Selain Tulungagung, Bung Karno kecil lama tinggal di Mojokerto. Di sana dia akrab dengan Wagiman dan sering tiduran di rumahnya yang lebih mirip gubuk. Wagiman pandai bercerita tentang tokoh-tokoh pewayangan. Tak bosan-bosan Soekarno mandatangi rumah Wagiman itu. Sejujurnya, dalam pergaulannya dengan Wagiman, Soekarno mulai tersentuh dengan persoalan penderitaan bangsa. Mojokerto adalah tempat awal bertumbuhnya kepedulian dan kecintaan Bung Karno kepada rakyat jelata.

Ironisnya, sebagian besar generasi muda bangsa kita hanya mengenal Blitar sebagai kota yang identik dengan Bung Karno. Bahkan, banyak generasi muda Surabaya yang tidak menyangka bahwa Soekarno adalah arek Suroboyo asli yang dengan semangat bonek-nya pantang menyerah. Dia menantang penjajah, berkali-kali ditangkap, dipenjara, dan dibuang. Tetapi, dia tetap nekat.       

''Ini dadaku, mana dadamu,'' kata Soekarno. Dia mengusir Amerika dengan kata-kata: Go to hell with your aid. (Kini sebaliknya kita mengemis-ngemis bantuan Amerika). Bahkan, dunia pun ditantangnya, dunia yang tidak adil kepada bangsa-bangsa tertindas.        

Bung Karno membandingkan kemerdekaan dengan keberanian kawin sang Marhaen: ''Kalau dia sudah mempunyai gubuk saja, dengan satu tikar, dengan satu periuk: kawin''. Serupa itu pula keberanian untuk merdeka, merdeka dengan sema­ngat nasionalisme.         

Harapan akan kemakmuran itu, kini masih menjadi sebuah mimpi bagi ratusan juta rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia kini merindukan Pemimpin yang bisa memberikan kemakmuran, kemerdekaan, kenyamanan, menjamin keamanannya. Sebuah keadilan juga tentunya.         

Ketika Sang Legenda Berpulang : #AmorRingAcintya Dolar

Pagi ini saya cukup dikejutkan dengan salah satu postingan teman di facebook yang membagikan kiriman bahwa pelawak Dolar meninggal dunia. Dolar yang merupakan salah satu seniman drama gong di Bali telah menjadi sosok yang selalu dinanti dalam setiap pementasannya.

Dolar yang memiliki nama asli Wayan Tarma adalah salah satu pemain (lawak) drama gong yang sangat tenar di zamannya, khususnya pada era Tahun 1990an. Kala itu drama gong masih menjadi kesenian paling favorit yang begitu merakyat di Bali. Ia hadir dengan deretan nama lain yang juga melegenda, sepert Petruk, Gangsar, Gingsir, Lodra, Luh Mongkeg, Yudana sang raja buduh, dan masih banyak lagi.

Saat saya kecil, TVRI sering menayangkan drama gong yang dipentaskan di taman budaya art centre Denpasar. Sejak itulah saya mulai menyukai kesenian drama gong. Meski waktu itu hanya menunggu bagian lawak dan lucunya saja. Ya. yang paling ditunggu jelas duet Petruk Dolar, lalu Gangsar dan Gingsir.

Seolah mengenang masa-masa itu, beberapa waktu lalu saya mengumpulkan koleksi lawak Bali klasik Dolar-Petruk melalui Youtube. Sebuah memori indah dari sang legenda. Terlebih saat acara TV saat ini didominasi oleh sinetron dan tayangan impor dari India dan Turki. Era Digital benar-benar menenggelamkan kejayaan drama dong di Bali.

Ya, seiring dengan sakitnya dolar dan berpulangnya bebeapa legenda drama gong beberapa waktu lalu, pamor drama gong semakin meredup. Masyarakat tidak lagi bisa memikmati lawakan khas yang sempat begitu merakyat pada era 1990an lalu. Seniman-seniman muda juga belum mampu disandingkan dengan kejayaan Dolar Petruk yang membuat drama gong semakin ditinggalkan para penggemarnya.

Kini, ketika sang legenda telah berpulang, hanya terimakasih yang bisa kami ucapkan. Terimakasih karena membuat kami merasakan kejayaan drama gong di Bali. Semoga karya-karyamu tetap menjadi inspirasi bagi para seniman muda. Semoga setelah kepergian Dolar, akan lahir sosok seniman-seniman lawak yang menjadi pionir bangkitnya pentas Drama Gong di Bali. #AmorRingAcintya Dolar #RIPDolar

Akhirnya Donor Darah (Lagi)

Semua berawal saat beberapa hari lalu saya menerima broadcast BBM dari seorang kawan lama yang kebetulan bertugas di Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Bali.BC itu kurang lebih mengajak kami untuk melakukan donor darah, skaligus menambah stok darah yang mulai menipis di RS Sanglah. Tanpa pikir panjang sya lngsung mengumpulkan niat untuk mendonorkan darah.

Alhasil saya juga segera melanjutkan pesan tersebut di beberapa grup BBM yang saya ikuti. Mengajak beberapa teman berharap bisa menemani saya ke RS Sanglah. Parahnya tak ada satupun yang memberi respon. Baik, tampaknya sang single fighter tampaknya harus berangkat sendiri lagi.

Setelah cukup persiapan dan merasa kondisi benar-benar sehat, saya pun akhirnya memilih hari minggu ini untuk menuju ke RS Sanglah. Tempat dimana saya akan mendonorkan darah. Beruntung ada seorang kawan yang akhirnya menjadi "korban" ajakan saya untuk ikut donor.

Persiapan yang saya maksud tentu bukan sesuatu yang berat.
Mengingat ini memang bukan donor saya yang pertama, tapi kalau dihitung saya sudah vakum cukup lama. Terakhir saya mendonorkan darah adalah tahun 2010 lalu alias lima tahun yang lalu!

Seorang calon pendonor disyaratkan untuk menjaga kondisi kesehatan dengan tidak bergadang, cukup istirahat, tidak opname dalam kurun waktu 3 bulan, serta beberapa syarat lain yang akan ditanyakan oleh petugas PMI. Tentu yang terpenting adalah tekanan darah normal dan kandungan hemoglobin berjumlah minimal 12,5.

donor
Dan seperti yang saya perkirakan, proses donor tidak berlangsung lama. Sesampainya di PMI, kami diminta mengisi biodata dan melakukan pemeriksaan awal yakni kandungan hemoglobin dan memastikan jenis golongan darah.
(Sekedar catatan, bisa saja orang tidak diperbolehkan melakukan donor apabila kondisi kesehatannya kurang atau bila kadar Hbnya dibawah standar minimum. Biasanya untuk kasus ini calon pendonor diminta untuk beristirahat dan kembali dalam kurun waktu 1-2 minggu.)

Selesai pemeriksaan awal tersebut, pendonor akan dipersilakan untuk menuju ruangan tranfusi darah untuk segera diambil darahnya. Prosesnya pun tidak lama maksimal hanya 20 menit. Dan yang terpenting, donor darah ini tidaklah menakutkan seperti yang dibayangkan kebanyakan orang.

Setelah memastikan semua proses berjalan lancar, petugas akan memberikan minuman dan obat penambah darah yang bertujuan mempercepat pertumbuhan sel-sel darah baru. Petugas cantik bernama Nining itu pun berpesan agar saya bisa kembali donor darah 3 bulan lagi. (Tenang mbak Nining, demi kamu saya akan kembali lagi! Wkwkw)

darah
Yup. Selesai. 1 kantong darah B+ milik saya sudah siap untuk diperiksa lagi sebelum diberikan ke mereka yang membutuhkan. Akhirnya setelah vakum cukup lama saya bisa donor lagi. Saya menikmatinya dan berharap kalian bisa melakukan hal yang sama. #BerbagiTakPernahRugi

IKANI SKANEMA Resmi Terbentuk, Siap Ciptakan Sinergi Alumni danAlmamater

Sebagai sekolah menengah kejuruan ternama di Bali, SMK Negeri 5 Denpasar kini semakin siap menjawab tantangan globalisasi dan dunia kerja. Hal tersebut tidak terlepas dari dukungan alumni yang saat ini telah tergabung dalam Ikatan Alumni SMK N 5 Denpasar (Ikani Skanema).

Ikani Skanema yang diresmikan dalam Musyawarah Alumni ke-1 SMK Negeri 5 Denpasar pada Minggu (19/1) lalu, merupakan wadah komunikasi seluruh alumni yang diharapkan dapat mengumpulkan kembali potensi-potensi alumni yang kini sudah berkarir di berbagai bidang bahkan hingga ke tingkat internasional.

Kepala SMK Negeri 5 Denpasar, Drs. I Ketut Sumerta dalam sambutannya, menyatakan bahwa akan ada banyak manfaat positif yang diperoleh sekolah dari keberadaan ikatan alumni. "Menjelang 17 tahun usia SMK N 5 Denpasar, kami menyambut baik dukungan yang diberikan alumni pada sekolah. Ini adalah bukti bahwa alumni tidak pernah lupa pada almamater", ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Panitia Musyawarah Alumni SMK N 5 Denpasar, I Nyoman Sugiartana. "Pembentukan Ikani Skanema adalah gagasan yang muncul dari perwakilan alumni yang selama ini memang masih terkotak-kotak per angkatan", ungkap Alumni Skanema tahun 2002 itu.

Terpilih sebagai Ketua Umum Ikani Skanema secara aklamasi dalam Musyawarah Alumni ke-1 adalah I Komang Edy Mulyawan didampingi Ni Putu Cintya Dewi (Sekretaris), Ni Putu Rismawati (Bendahara) dan Dewa Putu Ngurah Ardika sebagai Pelaksana Harian.

Dalam sambutannya, Ketua Ikani Skanema berharap organisasi ini bisa didukung penuh oleh seluruh alumni, sehingga cita-cita untuk menciptakan sinergi alumni dan almamater dapat terwujud. "Sebagai pengurus terpilih, kami akan berupaya untuk memaksimalkan berbagai kegiatan, sehingga Ikatan alumni tidak hanya terpaku pada reuni atau temu kangen", ujarnya.

Selain pembentukan pengurus, Musyawarah Alumni tersebut juga mengesahkan Visi dan Misi Ikatan Alumni, Peraturan Organisasi serta Garis Besar Program Kerja yang akan menjadi dasar pelaksanaan organisasi ke depan.@

Wow : Pilwalkot Bengkulu diikuti 11 Pasangan Calon Walikota!

Pemilihan Wali Kota Bengkulu periode 2012-2017 berlangsung pada 19 September 2012. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bengkulu menetapkan 11 pasangan calon wali kota dan wakil wali kota peserta pemilihan kepala daerah dalam rapat pleno terbuka di Bengkulu, Senin.

Ke-11 peserta pilkada Kota Bengkulu tersebut empat di antaranya diusung partai politik dan delapan pasangan calon berasal dari jalur independen atau perseorangan. Pilkada kota Bengkulu disebut-sebut sebagai Pilkada dengan jumlah pasangan terbanyak.

Berikut 11 pasangan wali kota dan wakil wali kota tersebut berdasarkan nomor urut

1. Pasangan Helmi Hasan dan Patriana Sosialinda. Pasangan ini diusung Golkar, PAN, Gerindra, PNBK, dan Demokrat.

2. Pasangan Evi Trilenza Sulaiman dan Endang Sumantri. Pasangan ini dari jalur independen.

3. Pasangan Emilia Puspita dan Ahmad Tarmizi Gumay. Pasangan ini 10 partai antara lain PDIP, PKPB, dan Partai Buruh.

4. Pasangan Muhammad Syamlan dan Jamuris Dadang dari jalur independen.

5. Firdaus Rosid dan Suroto dari independen.

6. Hilman Azazi dan Dwi Yanuasdi, juga dari independen.

7. Ahmad Kanedi dan Dani Hamdani. Ahmad Kanedi merupakan calon incumbent. Pasangan ini diusung PKS, Hanura, PKPI dan PBK.

8. Leni Haryani John Latif dan Sudoto diusung 14 partai antara lain PPP, PKB, dan Pelopor.

9. Ridwan Marigo dan Bowo Triyanto dari independen.

10. Hakman Novi dan Khairuddin Wahid dari independen.

11. Basri Muhammad dan Hutapia Wazir dari independen.

Kesebelas pasangan calon yang telah ditetapkan tersebut juga sudah melakukan deklarasi damai yang dipimpin Kapolres Kota Bengkulu AKBP Joko Suprayitno dan menandatangani fakta integritas. 11 Pasangan tersebut akan memperebutkan 243.914 suara yang sudah terdaftar di KPU Bengkulu.

Dalam perhitungan Hingga Rabu (19/9) sore, data dari 249 TPS yang masuk memperlihatkan perolehan suara Ahmad Kanedi-Dani Hamdani (25,71 persen) sedikit lebih unggul dari pasangan Helmi Hasan-Patriana Sosia Linda (25,56 persen). Hal ini menandakan bahwa Pemilihan Walikota Bengkulu ini akan dilanjutkan dengan putaran kedua.

Sumber : Merdeka.com

9 Hal Menarik di Pemilihan Gubernur Jakarta 2012

Pemilihan Gubernur Jakarta hampir mencapai puncak setelah pada putaran kedua ini, Pasangan Jokowi-Basuki berhasil unggul dalam hasil quick count Pilkada DKI. Namun jauh sebelum itu, entah disadari atau tidak, terdapat beberapa hal menarik di Pilkada Gubernur Jakarta Tahun 2012 ini.

1. Peserta Terbanyak
PILKADA Jakarta tahun ini diikuti peserta terbanyak oleh 6 pasang calon gubernur dan wakil gubernur, ini terbanyak dari tahun-tahun sebelumnya. Rekor jumlah ini masih kalah dari perhelatan Pilkada di Kota Bengkulu yang tercatat memiliki 11 (SEBELAS) pasangan calon walikota!

2. Jalur Independen
Pilkada Jakarta pada 2012 ini juga begitu istimewa karena munculnya dua pasang calon gubernur dan wakil gubernur yang dari jalur independen. Kedua pasangan itu yakni Faisal Basri dan Biem Benyamin serta pasangan Hendardji Supandji dan Achmad Riza Patria. Ini menandakan adanya keinginan masyarakat untuk mengurangi dominasi partai politik dalam suatu pemilihan umum. Sayangnya, suara independen ini masih belum cukup meyakinkan masyarakat Jakarta secara keseluruhan. Kedua pasangan ini bahkan tidak mencapai 10 % perolehan suara.

3. Calon Masih Menjabat Di Daerah Lain
Pilkada Jakarta tahun 2012 diikuti oleh tiga calon yang masiih menjabat sebagai kepala daerah. Alex Noerdin masih menjabat sebagai Gubernur Sumatera Selatan, Joko Widodo sebagai walikota Solo, dan tentu saja Fauzi Bowo yang menjabat sebagai Gubernur Jakarta incumbent.

4. Muncul Trend Mode Pakaian
Siapa yang menyangka kemeja kotak-kotak sederhana yang dipakai pertama kali oleh Jokowi saat awal persiapan Pilkada Jakarta berhasil menjadi trend maker bagi para pendukungnya. baju kotak-kotak ini juga terlihat lebih elegan, menyingkirkan kaos-kaos partai yang selama ini lebih sering mewarnai pemilu di daerah. Ini juga patut menjadi bahan acuan bagi calon-calon di daerah lain mengingat potensi trend pakaian seperti ini dapat menjadi sumber pendanaan misalnya melalui penjualan kaos kepada para simpatisan :)

5. Lembaga Survey Banyak Salah
Pilkada Jakarta putaran pertama dikejutkan dengan keunggulan pasangan Jokowi-Ahok atas 5 pasangan lain. Sebelumnya mayoritas lembaga mengunggulkan pasangan Foke-Nara sebagai pemenang.

6. Isu - isu SARA tak berpengaruh.
Menjelang putaran kedua Pilkada Jakarta, sempat mucul isu - isu SARA yang menyerang pasangan calon Gubernur. namun sepertinya isu-isu ini menjadi tak begitu efektif karena masyarakat Jakarta terbukti lebih cerdas untuk memilah mana yang mempengaruhi pilihan mereka.

7. Koalisi partai tak efektif
Meski didukung oleh mayoritas partai besar di Jakarta, pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli justru gagal. ini menandakan bahwa koalisi partai dan perhitungan matematis suara parpol tidak dapat dijadikan patokan menang atau tidaknya pasangan calon dalam suatu pilkada.

8. Menonjolnya figur Jokowi
Masyarakat Jakarta nampaknya begitu terpesona oleh sosok Jokowi. Figur yang memiliki karakter low profile, asketis dan dekat dengan warga sehingga dengan sendirinya ini menjadi antitesa atas Foke. Jokowi telah sukses membuat pencitraan sebagai tokoh yang sederhana dan (terkadang) tampak terdiskriminasi.

9. Incumbent Gagal Menang
Barangkali Pilkada 2012 ini akan sangat disesali oleh Fauzi Bowo. Dengan status sebagai Gubernur yang sedang menjabat alias incumbent, Foke gagal memanfaatkan kesempatan untuk melanjutkan masa kepemimpinannya. Logikanya : Foke bisa saja memanfaatkan status sebagai Gubernur Incumbent untuk lebih memunculkan diri dibanding tokoh lain melalui kegiatan-kegiatan dinas dan undangan di masyarakat. Namun sekali lagi, sayang Foke Gagal memanfaatkannya. :)

Nyepi, Jangan Hanya Sekedar Sepi


Nyepi selalu menjadi sebuah hari sakral bagi umat Hindu, khususnya di Bali. Bagaimana tidak, Nyepi mampu menghentikan hampir seluruh aktivitas di pulau ini. Pertokoan, jalan, pasar, bahkan bandara sekelas Ngurah Rai pun dapat berhenti beroperasi dalam rangka perayaan Nyepi. Namun itukah esensi nyepi yang sesungguhnya?


Secara umum, umat hindu bisa saja berteori bahwa dalam perayaan Nyepi, akan ada Catur Brata Penyepian. Keempat Brata tersebut meliputi Amati karya (tidak bekerja), Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Lelungan (tidak bepergian) dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang). Pertanyaannya, sudahkah itu diimplementasikan secara nyata?

Tulisan ini hanya sebuah otokritik bagi penulis, maupun umat hindu pada umumnya. Nyepi dari tahun ke tahun selalu sama. Kondisi lingkungan akan begitu lengang, dan hanya ada beberapa pecalang atau polisi yang berkeliling memantau situasi. Namun keadaan tersebut belum tentu menunjukkan bagaimana perayaan nyepi di rumah-rumah warga sesungguhnya.

Saya yakin masih ada beberapa keluarga yang masih belum terbiasa untuk memaknai catur brata penyepian. Dari pengalaman penulis, masih ada keluarga yang sibuk beraktifitas di dalam rumah, atau bahkan menghidupkan musik yang tanpa disadari dapat menggangu umat hindu lainnya. Beruntung sejak dua tahun terakhir, KPID Bali menghimbau stasiun televisi nasional untuk menghentika siaran di Bali, sehingga masyarakat Bali tetap tenang dalam perayaan hari Nyepi.

Tidak hanya itu, perilaku konsumtif masih tetap saja menjadi momok bagi perayaan brata penyepian, termasuk saya. Dalam hal ini penulis mengartikan konsumtif sebagai sebuah tindakan berfoya-foya. Ini tidak lepas dari kebiasaan dan faktor pola pikir keluarga masing-masing. Dengan dihadapkan pada berbagai jenis makanan pasca hari raya, sulit untuk membendung keinginan itu.


Bila harus diuraikan lebih mendalam, masih banyak kebiasaan keluarga yang belum menunjukkan makna nyepi yang sesungguhnya. Pada dasarnya nyepi atau sipeng adalah bentuk bersamadhi. Nyepi dimaknai dengan melihat diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai dengan hidup tenang, dengan melakukan upawasa (berpuasa), mona brata (brrata diam), dhyana (pemusatan pikiran) dan arcanam melakukan pemujaan terhadap Sanghyang Widhi)

Beranjak dari otokritik inilah, penulis ingin mengajak umat hindu untuk lebih peduli pada Nyepi itu sendiri. Jangan sampai akibat pembiaran yang terus-menerus terjadi, Nyepi semakin jauh dari esensi yang sesungguhnya. Ingat, Nyepi Tak Hanya Sekedar Sepi.. :)

Ibuku, Hidupku, dan Inspirasiku...

Ni Ketut Rasning. Sekitar 22 Tahun yang lalu aku dilahirkan dari rahimnya. Bahkan jauh sebelum itu, selama 9 bulan lamanya aku tenang dalam kandungannya. Aku takkan bisa merasakan bagaimana beliau melewati semua kesulitan itu. Aku hanya bisa mendengar semua cerita tentang perjalanannya merawatku saat aku kecil.

Saat beranjak dewasa, aku mulai memahami bagaimana kerasnya perjuangan Ibuku. Melewati hari-harinya sebagai seorang pedagang, ikut menafkahi keluarga dan membesarkan kedua anaknya. Subuh hingga siang hari dilewatinya dengan berjalan berkeliling di daerah Batubulan membawa sayur dan beberapa kebutuhan harian yang merupakan dagangannya. Aku teringat saat aku menempuh pendidikan dasar. Betapa ibanya aku saat itu, dengan badan berkeringat dan lapar yang masih bisa ditahannya, dia datang dengan senyum untuk menjemputku dari sekolah.

Saat ini pun rutinitasnya belum ingin ditinggalkanya, "memek sing bisa ngoyong jumah", ungkapnya sembari tersenyum tipis. Sesungguhnya aku tak tega. aku hanya bisa mengingatkan agar lebih berhati-hati dan tidak memaksakan untuk berjalan. Kondisi badan dan kakinya yang sudah tidak fit lagi membuatku sedikit khawatir saat beliau ada di jalan.

Tak hanya pengorbanan fisik, perhatian yang tak kalah luar biasa juga diberikannya untuk aku dan kakakku. Beliau menyiapakan makanan, memberi bekal sekolah, menanyakan keadaan dan sekolahku. Tak akan pernah terbalaskan oleh apapun. Pada akhirnya wisuda kemarin menjadi salah satu usahaku untuk "sedikit" membuatnya bangga. Beliau memang ingin melihat aku menyelesaikan kuliahku. Beliaulah motivasiku saat kemalasan mengganggu perjalananku selama di kampus.


Itulah ibuku, sosok yang penuh kerja keras, rendah hati, dan selalu mengalah demi keluarganya. Sosok yang begitu berjasa hingga aku bisa seperti ini. Hidupku adalah hasil perjuanganmu, dan itu telah menjadi inspirasi, bahwa aku harus bisa membahagiakanmu..

Selamat Hari Ibu...

Banyak Inspirasi Darimu, Jepang!



Sebuah Catatan Perjalanan Singkat...

Perwakilan Indonesia sampai di Bandara Internasional Narita, Tokyo, Jepang Senin, 3 Oktober 2011 pada pukul 7.00 waktu setempat, dan diterima oleh Mr. Tomotsugu Masunaga dan Mr. Miyachi. Peserta kemudian diantar menuju kantor pusat Reiyukai (Reiyukai Headquarter). Perwakilan Indonesia kemudian diajak untuk mengamati dan berkeliling Reiyukai Shakaden sebuah bangunan dengan aula (main hall) tempat persembahyangan anggota Reiyukai yang mampu menampung sekitar 5000 orang. Pada hari ini, belum banyak kegiatan yang dimulai karena mayoritas peserta dari negara lain baru tiba di Jepang pada sore-malam hari.

Keesokan harinya, Pukul 8.00 pagi seluruh peserta melakukan pembacaan Sutra (Recite Sutra) di main hall Reiyukai Shakaden bersama puluhan anggota Reiyukai jepang. Pukul 10.00 Seluruh perserta diajak untuk mengelilingi kompleks Reiyukai Shakaden dan dijelaskan mengenai perkembangan Reiyukai sejak didirikan oleh Mr. Kubo dan Mrs. Kimi Kotani. Sore harinya, pada pukul 14.00 waktu setempat, seluruh peserta mengikuti general meeting yang membahas mengenai jadwal selama kegiatan dan hal-hal yang harus dipersiapkan.

Pada hari ketiga, pukul 8.30 seluruh peserta meninggalkan Reiyukai Headquarter dan menuju Mirokusan, sebuah kompleks bangunan di pegunungan Miroku yang juga memiliki aula untuk persembahyangan dan bangunan yang di dalamnya terdapat ukiran patung Buddha dari kayu setinggi lebih dari 15 meter. Setelah sampai di Mirokusan pada pukul 11.30, peserta kemudian mengikuti doa bersama di aula setempat. Pukul 15.00 seluruh peserta mengikuti program orientation yang berupa evaluasi diri dan bagaimana filosofi Reiyukai dapat menjawab permasalahan yang dihadapi masing-masing anggota.

Tanggal 6 Oktober, Masih di kompleks Mirokusan, Pukul 08.00 pagi, seluruh peserta kembali mengikuti persembahyangan bersama lalu berkeliling kompleks Mirokusan. Pada pukul 11.00 waktu setempat, seluruh peserta kemudian mengunjungi makam Mrs Kimi Kotani yang juga terletak di sisi lain, kompleks Mirokusan. Pada pukul 13.00 seluruh peserta meninggalkan Mirokusan menuju Minobusan. Seluruh peserta tiba di Minobusan pada pukul 18.00 dan langsung beristirahat.

Minobusan merupakan kompleks pegunungan yang memiliki beberapa tempat persembahyangan. Pagi dini hari 7 Oktober 2011, pukul 05.00 seluruh peserta bersiap untuk mengelilingi kompleks Minobusan dan melaksanakan persembahyangan. Pada hari ini, ratusan anggota Reiyukai juga berkumpul untuk mengikuti kegiatan serupa. Pada kegiatan ini seluruh anggota Reiyukai baik perwakilan dari negara asing maupun anggota lokal Reiyukai Jepang sudah dibagi dalam 54 kelompok Setelah makan siang, pukul 13.00 waktu setempat seluruh peserta meninggalkan Minobusan dan menuju Shizuoka untuk persiapan pendakian gunung Sichimensan. Pukul 17.00 seluruh peserta tiba di dasar gunung Sichimensan dan menghabiskan malam di penginapan setempat.

Hari berikutnya, pagi dini hari pukul 04.00 seluruh peserta sudah bersiap untuk melakukan pendakian Sichimensan. Sichimensan merupakan sebuah gunung dengan ketinggian kurang lebih 1900 meter. Pendakian ditempuh selama 6 jam dengan 4 titik pemberhentian (istirahat). Selama pendakian, peserta mengucapkan mantra ”Namu Myohorenge Kyo” secara terus menerus. Sesampainya di puncak Sichimensan, seluruh peserta menginap di Vihara Nichiren. Pukul 14.00 seluruh peserta melaksanakan doa bersama di Peace Tower, sebuah bangunan di kompleks Vihara Nichiren. Pukul 15.30, seluruh peserta diajak mengelilingi kompleks Vihara Nichiren dan kemudian beristirhat mengingat suhu di puncak Sichimensan pada malam hari mencapai 8-10 derajat celcius.

Pada tanggal 9 Oktober pukul 04.30 dini hari, seluruh peserta melaksanakan doa bersama sambil menunggu matahari terbit. Pukul 05.30 matahari terbit dan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mayoritas peserta pendakian dengan melihat matahari terbit secara langsung dengan latar gunung Fujiyama. Selesai doa bersama, pukul 08.00, seluruh kelompok bersiap untuk menuruni Sichimensan. Perjalanan ditempuh lebih lama dibanding pendakian pada hari sebelumnya karena dalam perjalanan turun terdapat rombongan anggota Reiyukai lokal Jepang yang melakukan pendakian. Pukul 16.00 seluruh peserta tiba di dasar Sichimensan dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Habikino City, dan tiba di Kantor Reiyukai cabang ke delapan pada pukul 19.00 waktu setempat dan menginap di Minorikan.

Minorikan merupakan bangunan yang terletak di kompleks Reiyukai 8th Branch yang disediakan khusus bagi anggota Reiyukai yang membutuhkan akomodasi dan penginapan. Pada hari ini,10 Oktober 2011 ketujuh belas peserta perwakilan negara asing mengunjungi Ise Jingu, sebuah kompleks bangunan kuno penginggalan 2000 tahun lalu.

11 Oktober 2011, seluruh peserta masih menginap di Minorikan. Pukul 11.20 seluruh peserta diantarkan menuju Todaiji Temple, yang terletak di kota Nara dan dibangun pada periode 710-794 Masehi. (penjelasan tentang Todaiji Temple terlampir). Pada sore harinya, menjelang matari terbenam, seluruh peserta menuju Hikoma untuk menyaksikan pemandangan (ilumination –night view) Jepang pada malam hari.

Pada 12 Oktober 2011pukul 9.30 pagi, dilaksanakan member conference, sebuah pertemuan seluruh anggota Reiyukai khususnya cabang kedelapan Reiyukai. Pertemuan ini dihadiri ratusan anggota Reiyukai lokal Jepang. Pertemuan ini dibagi dalam dua tahap, yakni doa bersama dan sambutan Directur Reiyukai dan orang tua Mr. Tomotsugu Masunaga. Pada pertemuan ini, kembali diperdengarkan pidato Mrs. Kimi Kotani. Sore harinya, Pada pukul 15.30 diadakan Leader Meeting bersama Mr dan Mrs Masunaga yang membahas pengalaman peserta asing selama rangkaian kegiatan serta determinasi dan misi yang akan dilaksanakan setelah kembali ke negara masing-masing.
Pada malam hari, sekitar pukul 18.15 diadakan welcome party sekaligus farewell party bagi seluruh perwakilan negara asing. Pada acara ini masing-masing negara menunjukan penampilan untuk mengisi acara. Acara perpisahan berakhir pukul 20.10 dan ditutup dengan pidato dari Mr. Tomotsugu Masunaga.

Hari Terakhir, 13 Oktober 2011, peserta kegiatan mulai meninggalkan Jepang dan kembali ke negara masing-masing, kecuali perwakilan dari Meksiko yang meninggalkan Jepang pada tanggal 16 Oktober 2011. Perwakilan Indonesia sendiri, menuju Bandara Kansai, Osaka pada pukul 16.00 dan menunggu penerbangan kembali ke Indonesia pada pukul 00.20. Sebuah pengalaman yang sangat mengesankan. Jepang, Ingin rasanya kembali mengunjungimu..

Mana Lebih Baik, Alfred Riedl atau Wim Rijsbergen?

Keduanya adalah pelatih asing. Keduanya juga belum pernah memberi tropi bagi Indonesia.
Tapi dari segi kemampuan meracik tim, siapa yang lebih baik??

Di bawah ini adalah perbandingan, bagaimana pola permainan Timnas Indonesia saat dilatih oleh Alfred Riedl (Piala AFF 2010) dan Wim Rijsbergen pada Pra Piala Dunia 2014. Mana yang lebih baik?

Indonesia VS Filiphina, AFF Cup 2010
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=pRnJmHjUP4E&w=420&h=345]

Indonesia Vs Turkmenistan, Pra Piala Dunia 2014,
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=4loEvhqyaFA&w=420&h=345]

Tantangan Untuk PSSI 1 Pasca KLB

Djohar Arifin Husein akhirnya resmi menjadi Ketua Umum PSSI 2011-2015. Dalam Kongres Luar Biasa PSSI yang diadakan di Solo pada Sabtu, 9 Juli 2011. Djohar diberi amanat untuk menjadi PSSI 1 dan berdampingan dengan Farid Rahman sebagai Wakil Ketua Umum. Selain pasangan tersebut, Kongres Luar Biasa PSSI juga berhasil menentukan 9 nama anggota Komite Eksekutif PSSI, yaitu A Nyalla M Mattalitti, Mawardy Nurdin, Roberto Rhouw, Tuti Dau, Widodo Santoso, Sihar Sitorus, Erwin Dwi Budiawan, Tony Apriani dan Bob Hippy.



Keberhasilan Komite Normalisasi melaksanakan KLB bisa dikatakan sebagai babak baru persepakbolaan Indonesia. Maklum, sebelumnya KN sudah dua kali gagal melaksanakan Kongres, yakni di Riau dan Jakarta. Kini tugas berat sudah menanti Djohar sebagai Ketum PSSI yang baru. Banyak ekspetasi yang ditujukan kepadanya, terutama soal prestasi timnas yang memang sudah sangat dirindukan para pecinta sepak bola tanah air.

SEA Games menjadi ujian pertama Djohar untuk membuktikan kapasitasnya memimpin PSSI. Dalam hitungan bulan, Indonesia akan menjadi tuan rumah perhelatan olahraga se Asia tenggara itu. Jelas, Publik tidak ingin kembali dibawa pada memori Piala AFF Desember 2010 lalu. Selain itu, Ajang Pra Kualifikasi Piala Dunia melawan Turkmenistan pada 23 dan 28 Juli.juga menjadi tantangan jangka pendek bagi PSSI mengingat adanya kesulitan pendanaan bagi para punggawa timnas.

Tugas berat ini sebenarnya tidak hanya Djohar Arifin, selaku ketua umum. Namun Dhojar memiliki kewenangan untuk menyusun dan menentukan kebijakan internal PSSI, tidak hanya di tingkat pusat, tapi juga daerah. Masih banyak permasalahan organisasi PSSI di daerah yang mayoritas akibat adanya kepengurusan ganda, kurang transparannya pengelolaan klub, serta pembinaan suporter. Reformasi PSSI menjadi acuan bagi Djohar untuk memperbaiki manajemen organisasi sepak bola tersebut.

Beberapa hal lain yang juga menjadi tantangan bagi kepengurusan PSSI yang baru adalah pembinaan pemain muda, peningkatan infrastruktur, pengelolaan keuangan klub tanpa APBD, sitem kompetisi dan dilema Liga Primer Indonesia (LPI). Bagaimana Pak Djohar? Sudah siap untuk menjawab semua tantangan tersebut?

Jangan Kecewa Kawan!


Wajah pemain timnas yang kecewa setelah gagal menjadi juara AFF 2010
(Foto : Getty Images)


Beberapa waktu yang lalu, ketika euphoria dan antusiasme masyarakat sedang tinggi-tingginya pada timnas, saya sempat menuliskan bagaimana kira-kira akhir perjuangan timnas pada piala AFF tahun ini. Mencetak sejarah atau mengulangi kegagalan. Kemaren malam semuanya terjawab. Indonesia memang berhasil mencetak sejarah. 4 kali mencapai final, namun tak pernah mengangkat trofi.

Kekecewaan tampak di wajah para punggawa timnas usai gagal merebut piala AFF tahun ini. Meski hanya menyaksikan lewat layar kaca, dapat dirasakan bagaimana perasaan para pemain kemarin malam, bahkan Irfan Bachdim, salah satu pemain muda timnas,tidak dapat menahan kekecewaanya ketika ia keluar digantikan oleh Bambang Pamungkas.. Begitu pula dengan jutaan pasang mata yang mungkin hanya bisa terdiam saat perjuangan tim Garuda yang berakhir antiklimaks. Perkasa saat penyisihan, namun terluka di puncak.

Untuk kesekian kalinya, kita memang harus belajar. Di saat pemain, pelatih dan official tim sudah menunjukkan penampilan dan kerjasama yang baik, gangguan justru datang dari luar tim. Perlu digaris bawahi bahwa ekspose media yang terlalu berlebihan telah memberi dampak yang sangat berpengaruh bagi konsentrasi tim. membangun kebanggaan tak salah, namun ada baiknya dilakukan seperlunya dan tidak berlebihan.
Politisasi? Entahlah.

Bila sudah demikian, tidak perlu lagi ada saling menyalahkan. Toh kita juga mesti berterimakasih pada media yang sudah menyebarkan "virus" timnas pada seluruh lapisan masyarakat hingga akhirnya memunculkan ekspetasi tinggi pada timnas untuk menjadi juara. Pemain pun tidak patut dikambing hitamkan. Secara umum, seluruh pemain telah berusaha menunjukkan penampilan terbaiknya.

Apresiasi tetap harus ditujukan pada pemain timnas yang sudah berjuang hingga akhir. Mungkin kita memang belum beruntung. Harapan itu masih harus tetap dijaga. Apalagi dalam perhelatan piala AFF kemarin, beberapa bintang muda sudah menunjukkan sedikit sinarnya, sebut saja Arif Suyono, M. NAsuha, Zulkifli, Ahmad Bustomi dan beberapa nama lain yang akan semakin matang kelak.

PSSI pun harus berbenah, evaluasi menyeluruh harus segera dilakukan. Jangan hanya berbangga bisa mengumpulkan uang sekian milyar dari hasil penjualan tiket. Sudah saatnya PSSI menunjukkan profesionalisme sebagai lembaga yang menangani persepakbolaan Indonesia. PSSI sudah begitu banyak mendapat pelajaran selama ini, yang kurang hanyalah prestasi. Jadi, Jangan Kecewa Kawan, masih ada Sea Games tahun depan, dan disanalah Garuda harus mengapakkan sayapnya yang sempat patah oleh "laser" Negeri Jiran. Maju Garudaku, meski Malaysia mendapat trofi AFF, yakinlah bahwa Indonesia juara sejati dalam hal sportivitas.

Indonesia di Piala AFF 2010: Mencetak Sejarah Atau Mengulangi Kegagalan?

Sejauh ini kiprah tim nasional sepak bola Indonesia yang berlaga di ajang Piala AFF 2010 cukup memuaskan pecinta sepakbola Indonesia. Terlebih lagi, masyrakat Indonesia sudah lama merindukan prestasi terutama di kancah persepakbolaan nasional. Hingga partai pertama babak semifinal, Indonesia belum terkalahkan. Sebuah kesempatan untuk membuat sejarah menjadi juara Piala AFF untuk pertama kalinya.

Bagaimana sebenarnya perjalanan Indonesia di Piala AFF, atau yang dulu disebut piala Tiger?
Turnamen sepak bola untuk negara-negara di Asia Tenggara ini pertama kali digelar pada tahun 1996 di Singapura . Pada saat itu, turnamen ini dipelopori oleh sembilan negara ASEAN.

Thailand menjadi pencetak sejarah dengan pertama kali menjuarai turnamen ini setelah mengalahkan Malaysia di final. Vietnam menduduki posisi ketiga dan membuat Indonesia harus puas menjadi yang keempat.

Indonesia sendiri sempat membuat sebuah kontroversi ketika turnamen ini digelar tahun 1998. Bek Indonesia, Mursyid Effendi, menjadi "korban" skenario tim dengan mencetak gol ke gawang sendiri saat melawan Thailand. Hal tersebut dilakukan agar bisa terhindar dari Vietnam, sang tuan rumah. Indonesia saat itu kalah 2-3 dan membuat tim Gajah Putih berhadapan dengan tuan rumah Vietnam di babak semifinal.Singapura akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Vietnam. Sementara Indonesia di posisi ketiga dengan mengalahkan Thailand 5-4.

Terkait peristiwa itu, FIFA akhirnya memberikan denda kepada Indonesia dan Thailand yang terbukti merusak semangat sportivitas dalam sepakbola. Sang "korban" skenario tim, Mursyid Effendi bahkan dilarang bemain di pentas internasional selama seumur hidup.

Prestasi terbaik Indonesia diraih ketika berhasil mencapai final dan meraih posisi kedua yakni pada perhelatan tahun 2000, 2002, dan 2004 sedangkan prestasi terburuk Indonesia dalam turnamen ini gagal lolos ke semifinal yang terjadi tahun 2006.

Bagaimana dengan langkah Indonesia di Piala AFF 2010? Satu kaki Indonesia sudah menapaki babak final. Mampukah Indonesia mencetak sejarah dengan meraih juara? atau justru mengulangi kegagalannya seperti gelaran tahun tahun sebelumnya...Bagaimana pendapat anda? [polldaddy poll=4262159]

Sejarah Mencatat - 10 November : Merekalah Pahlawan Masa Kini

Hari ini, tanggal 10 November 2010, Bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pahlawan. Sebuah momen pertempuran yang dilakukan oleh para pejuang pada tanggal 10 November 1945, yang juga merupakan perang pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Hal ini sekaligus menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. Saat itu, terdapat sekitar 6,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.(wikipedia.org)

Peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November, hendaknya menjadi sebuah saat yang tepat bagi kita untuk menanamkan pola pikir tentang makna perjuangan seorang pahlawan. Soekarno, Jenderal Soedirman, Ki Hajar Dewantara dan ribuan nama lain yang sudah berkorban demi negeri ini memiliki kesamaan pandangan tentang esensi dari sebuah perjuangan, yaitu keihklasan dan pengabdian yang tulus. Bagaimana dengan era modern saat ini? adakah sosok yang mampu mentransformasikan esensi perjuangan seperti layaknya para pejuang kemerdekaan?

Dalam lingkup pemimpin bangsa, mungkin kita bisa hitung dengan jari. Sosok seperti alm Gusdur dengan konsep pluralisme Indonesia adalah salah satunya. Lalu bagaimana dengan yang lain? Dalam pandangan saya, ada beberapa sosok yang pantas disebut sebagai pahlawan. Mereka bukanlah sosok yang populer, bukan juga seorang tokoh bangsa. Mereka hanya sosok yang penuh keikhlasan melakukan apa yang mereka dapat lakukan yang tanpa kita sadari, merupakan sebuah hal yang harus kita apresiasi. Inilah mereka....

1.Pahlawan Lingkungan.

Sosok yang sederhana, mungkin sangat sederhana malah. profesi yang mungkin ditekuni bukan karena keinginan, melainkan karena tuntutan hidup dan tekanan ekonomi akibat sempitnya lapangan pekerjaan. Namun dalam kesehariannya, profesi ini adalah penyelamat lingkungan. mengumpulkan sampah plastik di jalanan, bahkan tidak jarang tumpukan sampah pun menjadi tempatnya menghabiskan waktu dalam sehari. Mengesampingkan kesan kumuh, serta bau menyengat yang bagi sebagian orang sangat mengganggu. Sungguh perjuangan yang harus kita beri apresiasi, meskipun terkadang mereka harus mendapat diskriminasi oleh sebagian orang dengan tulisan "Pemulung Dilarang Masuk" (baca : Pahlawan Dilarang Masuk)

2.Pahlawan Kemanusiaan
Di tengah terpaan bencana yang datang menghampiri Indonesia secara bertubi-tubi, siapa sosok yang paling berjasa dalam penanganan pasca bencana? Menteri? Presiden? ato mungkin anggota DPR yang sibuk mengurusi kunjungan kerjanya ke luar negeri? hhh...Dengan memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya, jawabannya adalah Relawan Bencana.!!
Merekalah sosok yang penuh dengan semangat kebersamaan, rasa kepedulian dan membangkitkan motivasi para korban untuk bangkit dari keterpurukan pasca bencana.


3.Pahlawan Pendidikan
Nah, yang ini rasanya tidak asing lagi, akan selalu menjadi pahlawan meskipun hingga kini belum juga diberi tanda jasa. Hm..Ya. Merekalah Guru, sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Sebuah pengabdian dalam dunia pendidikan terutama para guru yang dengan semangat keikhlasan membagikan pengalaman dan ilmunya demi tumbuhnya bibit-bibit berprestasi di negeri ini. Terlepas dari beberapa oknum guru yang berbuat diluar kode etiknya, guru tetaplah sebuah profesi dengan esensi kepahlawanan di dunia pendidikan.

dan berbagai pahlawan lainnya...............
sipapun dia, apapun profesinya, dapat kita sebut sebagai pahlawan, sepanjang mereka mampu menunjukkan keikhlasan dan rela berkorban demi tujuan masyarakat umum. Saya mengutip kalimat dari Eddy Prasetyo, yang ditulis dalam Tribun news edisi 10 November 2010 : Pahlawan sejati tidak membutuhkan atau menuntut gelar, karena sehebat apapun gelar, mereka tidak akan pernah menikmatinya. Dan ketika itu terwujud, maka sampai kapan pun, makna Hari Pahlwan akan menemukan relevansinya.

Kalau dipikir-pikir benar juga...
setiap orang mampu menjadi pahlawan. Pahlawan dengan sumbangsih nyata bagi bangsa dan negara sesuai dengan kemampuannya masing masing. dan yang terpenting, mereka yang harus mampu menginsiprasi munculnya pahlawan-pahlawan lain...
Selamat hari Pahlawan kawan....!!

referensi gambar :
http://www.cybermq.com
http://www.mediaindonesia.com

Sejarah Mencatat : 29 Agustus 1945 - 29 Agustus 2010 (Perjalanan Panjang dan Berliku bagi DPR RI)

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata tersebut?
Pembuat Undang-undang, pengawas kinerja presiden, lahan korupsi, suap-menyuap, ato yang lain?
Ya. ada begitu banyak kata yang dapat kita gunakan untuk mendeskripsikan sebuah lembaga yang bernama DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). Entah itu bernilai positif atau juga citra negatif yang disebabkan oleh buruknya kinerja para anggota dewan yang terhormat. Dan hari ini, 29 Agustus 2010, DPR tepat merayakan hari jadinya yang ke 65. Bagaimana prestasi yang dihasilkan? Sudahkah mewakili aspirasi rakyat? Mari kita refleksikan bersama...



Sejarah Terbentuknya DPR RI
Sejarah DPR RI dimulai sejak dibentuknya Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Presiden pada tanggal 29 Agustus di Gedung Kesenian, Pasar Baru, Jakarta. Tanggal peresmian KNIP ini (29 agustus 1945) dijadikan sebagai hari lahir DPR RI. Dalam Sidang KNIP yang pertama tersebut, dipilih 4 orang yang kemudian menjadi pimpinan KNIP yaitu:

* Ketua : Mr. Kasman Singodimedjo
* Wakil Ketua I : Mr. Sutardjo Kartohadikusumo
* Wakil Ketua II : Mr. J. Latuharhary
* Wakil Ketua III : Adam Malik

[gallery link="file"]

Dalam usianya yang sudah mencapai 65 tahun, keanggotaan DPR sejak pertama kali masih bernama KNIP hingga pada periode saat ini, sudah mencapai 17 periode. Adapun sejarah DPR tiap periodenya adalah sebagai berikut :
1. Komite Nasional Indonesia Pusat 29Aug 1945 - 15 Feb 1950

2. DPR dan Senat RIS 15 Feb 1950 - 16 Aug 1950,

3. DPRS 16 Aug 1950 - 26 Mar 1956

4. DPR hasil Pemilu I 26 Mar 1956 - 22 Jul 1959

5. DPR setelah Dekrit Presiden 22 Jul 1959 - 26 Jun 1960

6. DPR GR 26 Jun 1960 - 15 Nov 1965

7. DPR GR minus PKI 15 Nov 1965 - 19 Nov 1966

8. DPR GR Orde Baru 19 Nov 1966 - 28 Oct 1971

9. DPR hasil pemilu 2 28 Oct 1971 - 01 Oct 1977

10. DPR hasil pemilu 3 01 Oct 1977 - 01 Oct 1982

11. DPR hasil pemilu 4 01 Oct 1982 - 01 Oct 1987

12. DPR hasil pemilu 5 01 Oct 1987 - 01 Oct 1992

13. DPR hasil pemilu 6 01 Oct 1992 - 01 Oct 1997

14. DPR hasil pemilu7 01 Oct 1997 - 01 Oct 1999

15. DPR hasil pemilu 8 01 Oct 1999 - 01 Oct 2004

16. DPR hasil pemilu 9 01 Oct 2004 - 01 Oct 2009

17. DPR hasil pemilu 10 01 Oct 2009 - 01 Oct 2014

Untuk masa Jabatan 2009 - 2014, Pimpinan DPR yang menjabat saat ini adalah :
* Ketua: H. Marzuki Alie, SE., MM. (Fraksi Partai Demokrat)
* Wakil Ketua: Ir. Taufik Kurniawan, MM. (Fraksi Partai Amanat Nasional)[2]
* Wakil Ketua: Drs. H. Priyo Budi Santoso (Fraksi Partai Golongan Karya)
* Wakil Ketua: Ir. H. Pramono Anung Wibowo, MM. (Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan)
* Wakil Ketua: H.M. Anis Matta, Lc. (Fraksi Partai Keadilan Sejahtera)

Lika - Liku Perjalanan DPR RI
Setelah melalui hampir 17 periode masa jabatan ada begitu banyak hal yang dapat dipelajari dari perjalanan DPR RI. Tidak hanya mengenai kinerja tapi juga berbagai permasalahan yang dihadapi para anggota Dewan dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya.

Periode Komite Nasional Indonesia Pusat (1945-1949)
Pada masa ini, KNIP memegang peranan penting dalam menjalankan amanat UUD 1945, mengingat pada waktu tersebut, belum terbentuk berbagai lembaga-lembaga sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Anggota KNIP berjumlah 60 orang, tetapi sumber yang lain menyatakan terdapat 103 anggota KNIP. KNIP sebagai MPR sempat bersidang sebanyak enam kali. Dalam melakukan kerja DPR, dibentuk Badan Pekerja Komite Nasional Pusat. Badan Pekerja tersebut berhasil menyetujui 133 RUU, di samping pengajuan mosi, resolusi, usul dan lain-lain. Salah satu resolusi yang dinilai paling menonjol dalam periode KNIP ialah resolusi yang menyatakan protes yang sekeras-kerasnya kepada Pucuk Pimpinan Tentara Inggris di Indonesia atas penyerangan Angkatan Laut, Darat dan Udara atas rakyat dan daerah-daerah Indonesia terkait dengan terjadinya pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 Nopember 1945.

Periode DPR dan Senat Republik Indonesia Serikat (1949-1950)
Pembentukan negara serikat merupakan konsekuensi diterimanya hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Perubahan ini tercantum dalam Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS). Hal ini kemudian berdampak pada sistem yang digunakan Indonesia yaitu sistem pemerintahan parlementer, yang membagi badan legislatif RIS menjadi dua kamar, yaitu Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat.

Periode DPR-RIS
Pada Periode ini DPR-RIS dan Senat bersama-sama dengan pemerintah melaksanakan pembuatan perundang-undangan. DPR-RIS juga berwenang mengontrol pemerintah, dengan catatan presiden tidak dapat diganggu gugat, tetapi para menteri bertanggung jawab kepada DPR atas seluruh kebijaksanaan pemerintah, baik bersama-sama untuk seluruhnya, maupun masing-masing untuk bagiannya sendir seperti halnya sistem parlementer pada umumnya. Dalam masa kerjanya selama enam bulan, DPR-RIS berhasil mengesahkan tujuh undang-undang.

Periode Senat-RIS
Keanggotaan Senat RIS berjumlah 32 orang, yaitu masing-masing dua anggota dari tiap negara/negara bagian. Secara keseluruhan, cara kerja Senat RIS diatur dalam Tata Tertib Senat RIS.

Periode Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (1950-1956)
Pada tanggal 15 Agustus 1950, DPR dan Senat RIS menyetujui Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik Indonesia (UUDS NKRI, UU No. 7/1850, LN No. 56/1950). UUDS ini merupakan adopsi dari UUD RIS yang mengalami sedikit perubahan, terutama yang berkaitan dengan perubahan bentuk negara dari negara serikat ke negara kesatuan. Pada tanggal yang sama, DPR dan Senat RIS mengadakan rapat di mana dibacakan piagam pernyataan terbentuknya NKRI yang bertujuan:
1.Pembubaran secara resmi negara RIS yang berbentuk federasi;
2.Pembentukan NKRI yang meliputi seluruh daerah Indonesia dengan UUDS yang mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1950.

Periode DPR Hasil Pemilu 1955 (20 Maret 1956-22 Juli 1959)
DPR hasil Pemilu 1955 berjumlah 272 orang. Perlu dicatat bahwa Pemilu 1955 juga memilih 542 orang anggota konstituante, yang bertugas menyusun konstitusi Indonesia yang definitif, menggantikan UUDS.
Tugas dan wewenang DPR hasil Pemilu 1955 sama dengan posisi DPRS secara keseluruhan, karena landasan hukum yang berlaku adalah UUDS. Banyaknya jumlah fraksi di DPR serta tidak adanya satu dua partai yang kuat, memberi gambaran bahwa pemerintah merupakan hasil koalisi. Dalam masa ini terdapat tuga kabinet yaitu Kabinet Burhanuddin Harahap, Kabinet Ali Sastroamidjojo, dan Kabinet Djuanda.

Periode DPR Hasil Pemilu 1955 Paska-Dekrit Presiden 1959 (1959-1965)
Pada tahun 1959, Presiden Soekarno membubarkan Konstituante dan menyatakan bahwa Indonesia kembali kepada UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 2959. Jumlah anggota sebanyak 262 orang kembali aktif setelah mengangkat sumpah. Dalam DPR terdapat 19 fraksi, didominasi PNI, Masjumi, NU, dan PKI.
Dengan Penpres No. 3 tahun 1960, presiden membubarkan DPR karena DPR hanya menyetujui 36 milyar rupiah APBN dari 44 milyar yang diajukan. Setelah membubarkan DPR, presiden mengeluarkan Penpres No. 4 tahun 1960 yang mengatur Susunan DPR-Gotong Royong (DPR-GR).
DPR-GR beranggotakan 283 orang yang semuanya diangkat oleh presiden dengan Keppres No. 156 tahun 1960. Adapun salah satu kewajiban pimpinan DPR-GR adalah memberikan laporan kepada presiden pada waktu-waktu tertentu. Kewajiban ini merupakan penyimpangan dari Pasal 5, 20, dan 21 UUD 1945. Selama 1960-1965, DPR-GR menghasilkan 117 UU dan 26 usul pernyataan pendapat.

Periode DPR Gotong Royong Tanpa Partai Komunis Indonesia (1965-1966)
Setelah peristiwa G.30.S/PKI, DPR-GR membekukan sementara 62 orang anggota DPR-GR eks PKI dan ormas-ormasnya. DPR-GR tanpa PKI dalam masa kerjanya satu tahun, mengalami empat kali perubahan komposisi pimpinan. Secara hukum, kedudukan pimpinan DPR-GR masih berstatus sebagai pembantu presiden sepanjang Peraturan Presiden No. 32 tahun 1964 belum dicabut.


Periode DPR-GR Masa Transisi dari Orde Lama ke Orde Baru
Dalam rangka menanggapi situasi masa transisi, DPR-GR memutuskan untuk membentuk dua panitia:
1.Panitia politik, berfungsi mengikuti perkembangan dalam berbagai masalah bidang politik.
2.Panitia ekonomi, keuangan dan pembangunan, bertugas memonitor situasi ekonomi dan keuangan serta membuat konsepsi tentang pokok-pokok pemikiran ke arah pemecahannya.


Periode DPR-GR Masa Orde Baru 1966-1971
Berdasarkan Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966, yang kemudian dikukuhkan dalam UU No. 10/1966, DPR-GR masa “Orde Baru” memulai kerjanya dengan menyesuaikan diri dari “Orde Lama” ke “Orde Baru.”
Kedudukan, tugas dan wewenang DPR-GR 1966-1971 adalah sebagai berikut:
1.Bersama-sama dengan pemerintah menetapkan APBN sesuai dengan Pasal 23 ayat (1) UUD 1945 beserta penjelasannya.
2.Bersama-sama dengan pemerintah membentuk UU sesuai dengan Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 21 ayat (1) dan Pasal 22 UUD 1945 beserta penjelasannya.
3.Melakukan pengawasan atas tindakan-tindakan pemerintah sesuai dengan UUD 1945 dan penjelasannya, khususnya penjelasan bab 7.

Periode DPR Hasil Pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997
Setelah mengalami pengunduran sebanyak dua kali, pemerintahan “Orde Baru” akhirnya berhasil menyelenggarakan Pemilu yang pertama dalam masa pemerintahannya pada tahun 1971. Seharusnya berdasarkan Ketetapan MPRS No. XI Tahun 1966 Pemilu diselenggarakan pada tahun 1968. Ketetapan ini diubah pada Sidang Umum MPR 1967, oleh Jenderal Soeharto, yang menggantikan Presiden Soekarno, dengan menetapkan bahwa Pemilu akan diselenggarakan pada tahun 1971.
Menjelang Pemilu 1971, pemerintah bersama DPR-GR menyelesaikan UU No. 15 Tahun 1969 tentang Pemilu dan UU No. 16 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD.

Dalam hubungannya dengan pembagian kursi, cara pembagian yang digunakan dalam Pemilu 1971 berbeda dengan Pemilu 1955. Dalam Pemilu 1971, yang menggunakan UU No. 15 Tahun 1969 sebagai dasar, semua kursi terbagi habis di setiap daerah pemilihan (sistem proporsional). Cara ini ternyata mampu menjadi mekanisme tidak langsung untuk mengurangi jumlah partai yang meraih kursi dibandingkan penggunaan sistem kombinasi. Sistem yang sama masih terus digunakan dalam enam kali Pemilu, yaitu Pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.

Sejak Pemilu 1977, pemerintahan “Orde Baru” mulai menunjukkan penyelewengan demokrasi secara jelas. Jumlah peserta Pemilu dibatasi menjadi dua partai dari satu golongan karya (Golkar). Kedua partai itu adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Partai-partai yang ada dipaksa melakukan penggabungan (fusi) ke dalam dua partai tersebut. Sementara mesin-mesin politik “Orde Baru” tergabung dalam Golkar. Hal ini diakomodasi dalam UU No. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golongan Karya. Keadaan ini berlangsung terus dalam lima kali Pemilu, yaitu Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Dalam setiap Pemilu tersebut, Golkar selalu keluar sebagai pemegang suara terbanyak.
Dalam masa ini, DPR berada di bawah kontrol eksekutif. Kekuasaan presiden yang terlalu besar dianggap telah mematikan proses demokratisasi dalam bernegara. DPR sebagai lembaga legislatif yang diharapkan mampu menjalankan fungsi penyeimbang (checks and balances) dalam prakteknya hanya sebagai pelengkap dan penghias struktur ketatanegaraan yang ditujukan hanya untuk memperkuat posisi presiden yang saat itu dipegang oleh Soeharto.


Periode DPR Hasil Pemilu 1999 (1999-2004)
Sebagai DPR pertama yang terpilih dalam masa reformasi atau setelah jatuhnya Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998,DPR periode ini berhasil melakukan percepatan pemilihan umum. Salah satu prestasi yang berhasil dilakukan anggota DPR hasil Pemilu 1999, sebagai bagian dari MPR, yaknimelakukan amandemen terhadap UUD 1945 sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1999, (pertama), 2000 (kedua), 2001 (ketiga), dan 2002 (keempat). Meskipun hasil dari amandemen tersebut masih dirasa belum ideal, namun ada beberapa perubahan penting yang terjadi. Dalam soal lembaga-lembaga negara, perubahan-perubahan penting tersebut di antaranya: lahirnya Dewan Perwakilan Daerah (DPD), lahirnya sistem pemilihan presiden langsung, dan lahirnya Mahkamah Konstitusi.

Periode DPR Hasil Pemilu 2004 (2004-2009)
Amandemen terhadap UUD 1945 yang dilakukan pada tahun 1999-2002 membawa banyak implikasi ketatanegaraan yang kemudian diterapkan pada Pemilu tahun 2004. Beberapa perubahan tersebut yaitu perubahan sistem pemilihan lembaga legislatif (DPR dan DPD) dan adanya presiden yang dilakukan secara langsung oleh rakyat.Dalam Pemilu tahun 2004 ini, mulai dikenal secara resmi lembaga perwakilan rakyat baru yang bernama Dewan Perwakilan Daerah (DPD). DPR merupakan representasi dari jumlah penduduk sedangkan DPD merupakan representasi dari wilayah. Implikasi lanjutannya adalah terjadi perubahan dalam proses legislasi di negara ini.

Gambaran DPR saat ini...
Begitu panjangnya perjalanan DPR sejak awal terbentuk hingga saat ini nampaknya belum bisa memberikan sebuah kepuasan terutama dalam menjembatani aspirasi rakyat. Kondisi bangsa yang tidak henti dirundung masalah tidak mampu terselesaikan dengan baik oleh para wakil rakyat di senayan. Belum lagi berbagai citra buruk yang membayangi kinerja para anggota dewan terkait dengan korupsi, aksi suap, dan jual beli kepentingan yang terjadi secara tersistematis. Tidak hanya itu, tugas legislasi yang menjadi salah satu tugas pokok bagi para anggota dewan tidak mampu digarap secara baik dan berkualitas. Tidak banyak produk Undang-undang yang mampu dihasilkan. Lebih ironisnya lagi tidak sedikit perundang-undangan yang seolah hanya sekedar dibuat bahkan justru menimbulkan polemik di masyrakat. Hal ini bisa dilihat dari beberapa Undang-Undang atau pasal yang digagalkan oleh Mahkamah Konstitusi yang menandakan belum maksimalnya kualitas produk legislasi yang dihasilkan oleh DPR...

Bagaimana Ke depannya???
Rasanya tidak banyak hal yang dapat kita harapkan bagi perjalanan DPR ke depannya. DPR harus mengembalikan kepercayaan masyarakat. Sebuah dilema memang. Tahun 2014 rakyat harus memilih para wakil yang dianggap mampu mengemban aspirasinya, namun tidak mudah untuk melakukan hal tersebut. Apalagi melihat bagaimana tingkah polah para anggota DPR saat ini. satu hal pasti yang dapat diharapkan adalah munculnya tokoh-tokoh yang benar-benar memiliki mentalitas positif sebagai anggota DPR. Tokoh yang tidak hanya berlindung di balik kuatnya dukungan parpol atau bertameng uang yang selama ini menjadi awal terjadinya money politics di Indonesia...
Semoga.....

(Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Eryanto Nugroho dan Reny Rawasita Parasibu atas tulisannya dalam www.parlemen.net yang menjadi referensi utama dalam tulisan ini. Hal ini sebagai wujud penyebaran informasi terutama yang terkait dengan sejarah lembaga DPR RI)
Referensi lain :
wikipedia.org
www.dpr.go.id

Pemuda Marhaen Bali : "Ganyang Malaysia...!"

Desakan terhadap Pemerintah untuk bersikap tegas terhadap Malaysia ternyata tidak hanya terfokus di Jakarta maupun kota-kota lain di Pulau Jawa. Puluhan pemuda yang mengatas namakan Gerakan Marhaen Muda Indonesia (GMMI)siang tadi (Kamis, 26 Agustus 2010) mengadakan aksi simpatik mendesak penegasan hubungan diplomasi antara Indonesia dan Malaysia. Aksi dilakukan di depan Konsulat Jenderal Malaysia di Bali, tepatnya di Jalan Raya Kuta, Badung-Bali.

Dalam seruannya, masa GMMI yang dipimpin Korlap I Ketut Wilantara dan Wakorlap, I Wayan Suardika mendesak agar Pemerintah Indonesia dan Malaysia segera meyelesaikan konflik berkepanjangan terutama yang menyangkut perbatasan - teritorial kedua negara. Selain itu, para pemuda yang menggunakan pakaian putih hitam ini menyerukan agar Malaysia menghentikan intimidasi terhadap wilayah perairan Indonesia serta berbagai kekerasan yang dilakukan terhadap warga negara Indonesia di Malaysia. GMMI juga mengecam barter tiga pejabat Indonesia dengan 7 maling ikan Malaysia yang sempat menjadi headline di beberapa media nasional beberapa waktu lalu.

Aksi ini menjadi semakin menarik karena diselingi oleh orasi dalam bahasa Inggris. I Gede Wartika, sang orator berbahasa inggris sempat mendapat tepuk tangan riuh dari wisatawan yang ada di sekitar lokasi aksi.
Setelah hampir 1 jam melakukan orasi, 8 orang perwakilan GMMI akhirnya diterima oleh Konsulat Jenderal Malaysia di Bali, Feisol Hashim. Dalam pertemuan tersebut, juru bicara GMMI, Komang Edy Mulyawan, menegaskan agar aksi yang mereka lakukan dapat diterima dan ditindak lanjuti oleh Konsulat Malaysia. "Ini tidak hanya menyangkut kedaulatan negara Indonesia tapi juga hubungan diplomatik kedua negara. Dengan adanya hubungan yang baik maka konflik akan dapat diminimalisir." ungkap Filton Abaraham, salah satu masa GMMI yang juga ikut dalam pertemuan berdurasi sekitar 15 menit tersebut.



Konjen Malaysia sendiri merespon positif aksi simpatik yang dilakukan. Dalam pernyataannya di depan masa GMMI, Feisol Hashim berjanji akan meneruskan surat dan pernyataan sikap yang dibawa GMMI ke Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta dan Kementrian Luar Negeri Malaysia. "Hubungan Indonesia dan Malaysia sudah cukup baik, namun diplomasi harus terus dilakukan. Apalagi saat ini sudah banyak wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia, khususnya Bali. Ini harus dipertahankan. Mari jaga Bali bersama -sama", ujar Hashim dalam pernyataannya menjelang berakhirnya aksi simpatik. Setelah membacakan pernyataan sikap dan Surat pernyataan Konsulat Jenderal Malaysia, aksi kemudian diakhiri dengan damai sekitar pukul 16.30. WITA.(idh)

AHMI Tolak Remisi Bagi Koruptor dan Teroris

SekelompokPemuda yang tergabung dalam Aliansi Hindu Muda Indonesia (AHMI) siang tadi (25/8) mengadakan aksi demonstrasi menolak pemberian remisi dan grasi terhadap teroris dan koruptor, bertempat di Bundaran Catur Muka, Denpasar, Bali. Aksi yang berlangsung selama hampir dua jam ini cukup menyita perhatian para penguna jalan yang melewati lokasi tersebut.



Para peserta aksi yang berjumlah sekitar 120 orang menggunakan pakaian putih hitam serta membawa atribut bendera merah putih ini, secara tegas menyampaikan penolakan mereka terhadap remisi dan grasi bagi para koruptor serta teroris. Selain itu, dalam pernyataan sikapnya, AHMI juga mengingatkan pemerintah tentang supremasi hukum dan keadilan bagi masyarakat umum. Adapun Pernyataan sikap yang diserukan oleh AHMI adalah sebagai berikut:

1.Menolak segala bentuk remisi yang diberikan pemerintah Indonesia kepada narapidana teroris dan koruptor
2.Mengingatkan kepada seluruh aparat pemerintahan termasuk masyarakat bahwa teroris dan koruptor begitu merugikan bangsa Indonesia baik dari segi materi, mental, bahkan nyawa.
3.Mengingatkan kepada masyarakat bahwa tidak sedikit dari penderitaan masyarakat disegala bidang merupakan dampak dari kerugian akibat tindak terorisme dan korupsi oknum –oknum pejabat yang tidak bertanggung jawab.
4.Menyerukan kepada seluruh warga NKRI bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang berkedaulatan hukum dan berlandaskan Pancasila, mari kita tegakkan hukum dan laksanakan butir – butir Pancasila sebagai kesepakatn umum bangsa Indonesia terutama sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
5.Menuntut konsistensi pemerintah dalam penegakan hukum dan menagih janji – janji kampanye para pemimpin baik eksekutif maupun legislatif Negara Indonesia dalam menindak tegas teroris dan koruptor
6.Mengucapkan terima kasih kepada KPK dan Densus 88 Republik Indonesia yang telah menunjukkan kinerjanya dalam menggungkap dan menangkap koruptor dan teroris, namun jangan sampai di belakang publik malah memanfaatkan situasi untuk kepentingan yang bukan kepentingan bersama seluruh masyarakat Indonesia.
7.Menyerukan bahwa Bung Karno memerdekakan Indonesia pada tanggal 17 Agustus bukan untuk diperingati sebagai hari pemberian remisi kepada para penghianat bangsa.

Selain menyampaikan orasi secara bergantian, aksi ini juga diisi teatrikal menceritakan pemerintah yang seolah – olah melindungi koruptor. Menurut Korlap aksi, I Ketut Wilantara, aksi ini semata-mata untuk mengingatkan pemerintah agar tidak mudah memberikan remisi maupun grasi kepada para narapidana terutama koruptor dan teroris. “Perlu ada kajian lebih mendalam terhadap aturan perundang-undangan terkait syarat pemberian remisi dan grasi bagi narapidana kejahatan terorisme dan korupsi”, ungkapnya.

Salah satu orator, Pangestu, dalam orasinya menyatakan bahwa perlu ada transparansi mengenai pemberian remisi dan grasi bagi terpidana korupsi dan terorisme sehingga dapat menghindarkan adanya kepentingan politis dalam pemberian grasi maupun remisi. “Pemerintah jangan mudah untuk menggunakan alasan kemanusiaan saat membebaskan teroris, karena masyarakat umum juga memiliki hak kemanusiaan yang harus dibela dan diberikan secara adil”

Dalam aksi simpatik tersebut, terlihat beberapa satuan pengaman dari SAMAPTA Polda Bali yang berjaga – jaga disekitar lokasi. Bahkan beberapa masyarakat yang melewati lokasi aksi sempat memekikkan kata “Merdeka” sebagai wujud dukungan terhadap aksi yang dilakukan. Pada pukul 16.00 Wita, aksi kemudian ditutup dengan mengelilingi Patung Catur Muka sambil menyanyikan beberapa lagu Nasional. (idh).

Sejarah Mencatat : 21 Agustus - Hari Maritim Nasional (Sebuah Refleksi Kejayaan Maritim Indonesia)

Selain sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih kurang 17.508 pulau, Indonesia juga memiliki garis pantai terpanjang di dunia yakni 81.000 km yang merupakan 14% dari garis pantai yang ada di seluruh dunia. Dengan luas yang mencapai 5,8 juta km2, atau mendekati 70% dari luas keseluruhan, Indonesia pun diyakini sebagai salah satu negara maritim terluas di dunia. Seberapa besar relasi antara potensi maritim dan pengembangan yang dilakukan saat ini? Sudahkah sejalan??



Catatan sejarah tentang Maritim Indonesia.
Sejak abad ke-9 Masehi, yang juga merupakan awal masa keemasan nusantara, bangsa Indonesia telah melakukan pelayaran jauh dan mengarungi lautan, ke barat memotong Lautan Hindia hingga Madagaskar, ke timur hingga Pulau Paskah. Dengan kian ramainya arus perdagangan melalui laut, mendorong munculnya kerajaan-kerajaan di nusantara yang bercorak maritim dan memiliki armada laut yang besar.

Kerajaan maritim terbesar di nusantara diawali Kerajaan Sriwijaya (tahun 683-1030 M). Petualang Tiongkok, I Tsing, mencatat, Shih Li Fo Shih (Sriwijaya) adalah kerajaan besar yang mempunyai benteng di Kotaraja, armada lautnya amat kuat. Guna memperkuat armada dalam mengamankan lalu lintas perdagangan melalui laut, Sriwijaya memanfaatkan sumber daya manusia yang tersebar di seluruh wilayah kekuasaannya, yang kini disebut "kekuatan pengganda".

Runtuhnya Sriwijaya disusul naiknya Kerajaan Majapahit (1293-1478 M) yang semula agraris. Majapahit lalu berkembang menjadi kerajaan maritim setelah Gajah Mada menjadi mahapatih. Dengan Sumpah Palapa, Gajah Mada bercita-cita menyatukan nusantara dan diangkatlah Laksamana Nala sebagai Jaladimantri yang bertugas memimpin kekuatan laut Kerajaan Majapahit. Dengan armada laut yang kuat, kekuasaan Majapahit amat luas hingga keluar nusantara.

Kejatuhan Majapahit diikuti munculnya Kerajaan Demak. Kebesaran Kerajaan Demak jarang diberitakan. Kekuatan maritim Kerajaan Demak dibuktikan dengan mengirim armada laut sebanyak 100 buah kapal dengan 10.000 prajurit menyerang Portugis di Malaka. Pemimpin armada itu adalah Pati Unus yang bergelar Pangeran Sabrang Lor. Meski berteknologi sederhana, Demak mampu mengerahkan pasukan dan perbekalan dari utara Pulau Jawa menuju semenanjung Malaka.

Sejarah itu menggambarkan kehebatan armada niaga, keandalan manajemen transportasi laut, dan armada militer yang mumpuni dari beberapa kerajaan di nusantara yang mampu menyatukan wilayah luas dan disegani bangsa lain. Dengan armada niaga yang besar, kerajaan bersosialisasi dan membawa hasil alam sebagai komoditas perdagangan ke negeri lain. Dan untuk menjaga keamanan, kerajaan memiliki armada laut yang kuat.

Potensi maritim Indonesia
Berkaca dari masa lalu, Jelas terllihat bahwa kejayaan masa kerajaan diperoleh karena mengoptimalkan potensi laut sebagai sarana dalam suksesnya perekonomian dan ketahanan politik suatu negara. Maka dari itu, sudah seharusnya Indonesia mulai secara tegas mengembangkan potensi laut yang dimilikinya.

Iklim musiman Indonesia terkategorikan menjadi dua, yakni musim hujan dan musim kering, yang keduanya dipisahkan oleh musim peralihan. Musim kering secara umum berlangsung mulai Bulan Juni hingga September dan dipengaruhi oleh massa udara dari belahan Benua Australia. Musim hujan terjadi mulai Bulan Desember hingga Maret, dipengaruhi oleh massa udara dari Laut Pasifik dan Benua Asia. Selama kedua musim ini, angin bergerak stabil dan bervariasi dari yang pelan hingga cukup kencang. Musim peralihan berlangsung mulai Bulan April hingga Mei, dan Bulan Oktober hingga November, yang umumnya ditandai dengan pergerakan angin yang tidak stabil.

Laut Indonesia juga mengalami iklim musiman. Musim Timur Laut ditandai dengan tekanan udara tinggi di Asia dan tekanan udara rendah di Australia, dan terjadi pada musim hujan. Musim Tenggara berlangsung selama beberapa bulan pada musim kering, dan ditandai oleh tekanan udara tinggi di Australia dan tekanan udara rendah di Asia.

Ekosistem di laut Indonesia tercatat sangat bervariasi, khususnya ekosistem pesisir. Ekosistem-ekosistem ini menopang kehidupan dari sekian banyak spesies. Indonesia merupakan rumah bagi hutan bakau yang sangat luas dan padang lamun, serta juga menjadi rumah bagi sebagian besar terumbu karang yang luar biasa, yang ada di Asia. Hal tersebut menandakan betapa besarnya potensi yang dimiliki oleh lautan Indonesia, tinggal kini bagaimana masyarakat dan pihak - pihak yang memiliki kewenangan memaksimalkan berbagai potensi tersebut.

Ancaman Bagi maritim Indonesia
Semakin besar potensi yang dimiliki maka ancaman pun semakin tinggi. Contoh nyata bagi Indonesia adalah banyaknya sengketa - sengketa yang muncul terkait dengan perbatasan terutama batas laut dengan negara tetangga. Belum hilang dari ingatan kita bagaimana kasus Ambalat, Sipadan dan Ligitan serta yang terbaru adalah "tukar guling tahanan" antara maling ikan Malaysia dan Petugas Pengawas Kelautan RI.
Semua masalah tersebut menggambarkan bagaimana permasalahan laut wilayah, yaitu didaerah-daerah perbatasan yang lebar lautnya kurang dari 24 mil. Masalah ini terutama menyangkut perbatasan Indonesia-Malaysia dan Indonesia-Singapura yang belum padu. Apalagi ditambah dengan ekspor pasir Indonesia ke Singapura yang dapat berakibat perluasan klaim Singapura atas wilayah lautnya.

Ancaman yang juga harus diwaspadai oleh Indonesia adalah maraknya pencurian - pencurian terumbu karang maupun potensi lain di dalam laut yang tidak hanya dilakukan oleh masyarakat secara ilegal tapi juga melibatkan pihak asing dengan kedok investasi yang justru merugikan pendapatan Indonesia. Tidak hanya itu, pengawasan terhadap "harta karun" yaitu kapal-kapal yang karam juga harus menjadi perhatian pemerintah Indonesia jika tidak ingin kecolongan untuk kesekian kalinya.

Peluang Maritim Indonesia di masa Depan.

Dengan besarnya potensi yang dimiliki Indonesia, rasanya tidak salah apabila kelak kita mengharapkan suatu kejayaan baru dalam pengembangan maritim di Indonesia. Pemerintah hendaknya mulai mengarahkan masyarakat untuk "kembali ke laut". Motivasi dan arahan ini pun tidak semata- mata sebagai ajakan yang kontradiktif dengan kebijakan yang dikeluarkan. sebagai contoh, masyarakat yang memang bekerja sebagai nelayan maupun di laut pada umumnya tidak diberatkan dengan masalah bahan bakar yang mahal, maupun ancaman keamanan dengan negara lain. Hal ini membutuhkan sinergi antara peraturan tegas dari pemerintah, TNI angkatan laut maupun masyarakat itu sendiri.

Terkait dengan masalah armada laut, meskipun masih dalam kesederhanaan fasilitas, paling tidak secara perlahan Indonesia sudah harus mulai membangun suatu armada laut yang kuat baik dari segi personil, maupun persenjataan dan armada kapal yang dimiliki. Untuk itu, pembangunan sistem pertahanan laut –meliputi pembuatan kapal, pembangunan pangkalan dan jaringan sistem logistik dan kesiapan awak termasuk membangun budaya dan tradisi bahari rakyatnya– adalah mutlak dan merupakan upaya terpadu yang melibatkan seluruh potensi dan kekuatan nasional. Persiapan ini menjadi suatu hal yang penting tidak hanya untuk menjaga kedaulatan maritim Indonesia tapi juga mengembalikan kejayaan maritim Indonesia seperti zaman nenek moyang kita dulu..(^_^)...

Referensi
www.kemaritiman-indonesia.com
www.berdikarionline.com
www.terangi.or.id
www.indonesianmaritimnews.com
Kejayaan maritim Indonesia

Peristiwa Rengasdengklok : Peran Pemuda yang Terselip Dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia


Tanggal 14 Agustus 1945 menjadi tanggal yang cukup bermakna terutama bagi persiapan kemerdekaan RI. Bagaimana tidak, pada tanggal inilah Pasukan Jepang menyerah tanpa syarat kepada pihak sekutu. Berita ini diketahui oleh kalangan pemuda bangsa Indonesia di Bandung, 15 Agustus 1945 melalui berita siaran radio BBC (British Broadcasting Corporation) London.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta baru saja kembali ke tanah air setelah memenuhi panggilan Panglima Mandala Asia Tenggara, Marsekal Terauchi di Saigon, Vietnam.
Nah saat inilah terjadi suatu pro dan kontra tentang waktu dan pelaksanaan proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Golongan muda menginginkan agar proklamasi kemerdekaan Indonesia cepat dilaksanakan karena hal ini merupakan hak dan masalah rakyat Indonesia sendiri tanpa bergantung pada negara atau bangsa yang lain.
Sedangkan golongan tua ingin agar kemerdekaan Indonesia dilakukan secara terencana dan terstruktur. yakni dengan adanya pernyataan dari bangsa lain berupa lampiran tanda tangan, dan sebagainya.Perbedaan pendapat inilah yang membuat para golongan muda membawa (baca : menculik) Soekarno dan Hatta (golongan tua) ke Rengasdengklok, tempat yang jauh dari jalan raya utama Jakarta-Cirebon tanggal 16 Agustus 1945. Hal ini dilakukan golongan muda agar mereka jauh dari pengaruh pemerintah pendudukan Jepang.

Sementara itu, di Jakarta terjadi perundingan antara Ahmad Subardjo (wakil golongan tua) dengan Wikan (wakil golongan muda) yang akhirnya menciptakan kesepakatan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan di Jakarta.

Setelah adanya kesepakatan tersebut, Soekarno-Hatta pun dijemput dari Rengasdengklok ke rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1 sekaligus mempersiapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia

Naskah proklamasi sendiri dirumuskan oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Ahmad Subardjo. Terjadi perdebatan dan pertimbangan mengenai kepastian isi dan redaksi naskah teks proklamasi. Selanjutnya Sayuti Melik yang mengetik sesuai dengan naskah yang telah mengalami perubahan yang telah disepakati. Penyusunan teks proklamasi berlangsung hingga tanggal 17 Agustus 1945 dini hari.

Apa yang patut kita petik dari peristiwa rengasdengklok?
Mungkin sekilas kita hanya menilai arogansi dan emosional dari para golongan muda waktu itu. namun Bagi sebagian orang, peristiwa Rengasdengklok tetaplah sebuah awal dari persiapan kemerdekaan Indonesia. Mungkin peristiwa rengasdengklok memang ditakdirkan untuk terjadi. Harus ada terselip peran pemuda dalam sejarah bangsa ini, dan salah satunya adalah lewat peristiwa Rengasdengklok.

Kita tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi sendainya peristiwa Rengasdengklok tidak ada. Soekarno-Hatta adalah ketua dan wakil ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Tanggal 12 Agustus 1945, Terauchi (pimpina Jepang diselatan) mengatakan bahwa sesuai perintah Tokyo, Indonesia akan merdeka dan waktu penyelenggaraan kemerdekaan itu tergantung pada Soekarno-Hatta kapan mau dilaksanakannya. Jadi tergantung pada bangsa Indonesia. Soekarno-Hatta berpikir penyelenggaraan itu, paling tidak setelah tanggal 20-an.

Sutan Sjahrir dan golongan pemuda yang secara tetap memonitor keadaan dunia, tahu bahwa tanggal 14 Agustua 1945, Jepang sudah kritis. Dan tanggal 15 Agustus 1945 Jepang sudah kalah dari sekutu. Artinya penguasa dunia sekarang adalah kaum sekutu termasuk juga penguasa Indonesia secara abtrak. Maka dari itu, inilah moment yang sangat penting untuk merebut kekuasaan. Skenario yang tiinginkan pemuda tidak lagi mempercepat rapat PPKI seperti Soekarno Hatta, tapi Revolusi dan merebut kekuasaan dari Jepang. Pada saat hal ini dibicarakan, Soekarno-Hatta tidak setuju, karena diperkirakan bakal jatuh korban banyak akibat revolusi (baca : perang), Selain itu Soekarno tidak mau percaya bahwa Jepang sudah kalah. Beliau menjanjikan akan bertanya kepada pihak Jepang dahulu. Karena tidak ada informasi yang akurat, termasuk penjelasan Maeda yang tidak terus terang, Soekarno-Hatta pulang dengan tangan kosong. Maka malam harinya menjelang subuh, diculiklah Soekarno-Hatta oleh para pemuda dibawah pimpinan Soekarni dan dibawa ke Rengasdengklok.
Apapun pendapat anda tentang peristiwa rengasdengklok, kejadian ini tetaplah peristiwa yang melengkapi catatan sejarah kemerdekaan Indonesia, dan tidak bisa kita pungkiri ada peran pemuda yang mempercantik catatan sejarah tersebut...

Pendapat anda tentang Pemindahan Ibukota Indonesia...

Maraknya pemberitaan di media massa saat ini mengenai pemindahan pusat pemerintahan Ibu Kota Indonesia, Jakarta dinilai hanya sebagai bentuk dari sikap emosional masyarakat akibat dari kompleksnya permasalahan di Jakarta. Ide tersebut belum bersifat konsepsional yang disertai pengkajian mendalam. Lalu bagaimana anda menanggapi berkembangnya wacana ini??
[polldaddy poll=3569310]
[polldaddy poll=3569322]
[polldaddy poll=3569347]

Masyarakat dan pemerintah hendaknya dapat menyadari bahwa pemindahan ibukota ibarat memindahkan sebuah kehidupan. Tidak hanya pemindahan status tetapi juga segala aspek yang mendukung harus tersedia sebelum dipindahkan, mulai dari sumber daya manusia lokal yang bekerja di dalamnya, sistem Informasi dan teknologi, insfrastruktur fisik serta sistem birokrasi sehingga pemindahan Ibukota menjadi solusi yang benar-benar menyelesaikan permasalahan dan bukannya membuat masalah baru dikemudian hari.