Showing posts with label Pemuda. Show all posts
Showing posts with label Pemuda. Show all posts

LOMBA PENULISAN ESAI TINGKAT SMA/SMK – MAHASISWA SE BALI

TEMA
“TARIAN SENIMAN DI PANGGUNG POLITIK”

Keterlibatan para seniman dalam panggung politik, telah menuai penilaian beragam. Ada yang mendukung, mengingat ruang politik di Indonesia memang kesempatan luas untuk semua warga negara, terlepas latar belakang profesinya.

Di lain pihak banyak pula kalangan yang beranggapan bahwa seniman tidak memiliki kapabilitas dalam bidang politik. Keterlibatan artis dalam pemilihan umum legislatif atau Pilkada dinilai hanya untuk mendongkrak popularitas partai politik (parpol) pengusung.

Dalam lomba ini, peserta diharapkan dapat memberikan paradigma berbeda bagaimana kiprah seniman dalam panggung politik Indonesia dan Bali pada khususnya, Hal tersebut juga bertujuan untuk membuka wawasan dan mindset generasi muda dalam proses kemajuan politik dan kebudayaan nasional.

Untuk kalian Siswa SMA/SMK dan mahasiswa Perguruan Tinggi Se-Bali yang berminat mengikuti Lomba ini dapat mengunduh Kriteria Lomba disini dan Formulir Pendaftaran disini

Peristiwa Rengasdengklok : Peran Pemuda yang Terselip Dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia


Tanggal 14 Agustus 1945 menjadi tanggal yang cukup bermakna terutama bagi persiapan kemerdekaan RI. Bagaimana tidak, pada tanggal inilah Pasukan Jepang menyerah tanpa syarat kepada pihak sekutu. Berita ini diketahui oleh kalangan pemuda bangsa Indonesia di Bandung, 15 Agustus 1945 melalui berita siaran radio BBC (British Broadcasting Corporation) London.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta baru saja kembali ke tanah air setelah memenuhi panggilan Panglima Mandala Asia Tenggara, Marsekal Terauchi di Saigon, Vietnam.
Nah saat inilah terjadi suatu pro dan kontra tentang waktu dan pelaksanaan proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Golongan muda menginginkan agar proklamasi kemerdekaan Indonesia cepat dilaksanakan karena hal ini merupakan hak dan masalah rakyat Indonesia sendiri tanpa bergantung pada negara atau bangsa yang lain.
Sedangkan golongan tua ingin agar kemerdekaan Indonesia dilakukan secara terencana dan terstruktur. yakni dengan adanya pernyataan dari bangsa lain berupa lampiran tanda tangan, dan sebagainya.Perbedaan pendapat inilah yang membuat para golongan muda membawa (baca : menculik) Soekarno dan Hatta (golongan tua) ke Rengasdengklok, tempat yang jauh dari jalan raya utama Jakarta-Cirebon tanggal 16 Agustus 1945. Hal ini dilakukan golongan muda agar mereka jauh dari pengaruh pemerintah pendudukan Jepang.

Sementara itu, di Jakarta terjadi perundingan antara Ahmad Subardjo (wakil golongan tua) dengan Wikan (wakil golongan muda) yang akhirnya menciptakan kesepakatan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan di Jakarta.

Setelah adanya kesepakatan tersebut, Soekarno-Hatta pun dijemput dari Rengasdengklok ke rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1 sekaligus mempersiapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia

Naskah proklamasi sendiri dirumuskan oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Ahmad Subardjo. Terjadi perdebatan dan pertimbangan mengenai kepastian isi dan redaksi naskah teks proklamasi. Selanjutnya Sayuti Melik yang mengetik sesuai dengan naskah yang telah mengalami perubahan yang telah disepakati. Penyusunan teks proklamasi berlangsung hingga tanggal 17 Agustus 1945 dini hari.

Apa yang patut kita petik dari peristiwa rengasdengklok?
Mungkin sekilas kita hanya menilai arogansi dan emosional dari para golongan muda waktu itu. namun Bagi sebagian orang, peristiwa Rengasdengklok tetaplah sebuah awal dari persiapan kemerdekaan Indonesia. Mungkin peristiwa rengasdengklok memang ditakdirkan untuk terjadi. Harus ada terselip peran pemuda dalam sejarah bangsa ini, dan salah satunya adalah lewat peristiwa Rengasdengklok.

Kita tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi sendainya peristiwa Rengasdengklok tidak ada. Soekarno-Hatta adalah ketua dan wakil ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Tanggal 12 Agustus 1945, Terauchi (pimpina Jepang diselatan) mengatakan bahwa sesuai perintah Tokyo, Indonesia akan merdeka dan waktu penyelenggaraan kemerdekaan itu tergantung pada Soekarno-Hatta kapan mau dilaksanakannya. Jadi tergantung pada bangsa Indonesia. Soekarno-Hatta berpikir penyelenggaraan itu, paling tidak setelah tanggal 20-an.

Sutan Sjahrir dan golongan pemuda yang secara tetap memonitor keadaan dunia, tahu bahwa tanggal 14 Agustua 1945, Jepang sudah kritis. Dan tanggal 15 Agustus 1945 Jepang sudah kalah dari sekutu. Artinya penguasa dunia sekarang adalah kaum sekutu termasuk juga penguasa Indonesia secara abtrak. Maka dari itu, inilah moment yang sangat penting untuk merebut kekuasaan. Skenario yang tiinginkan pemuda tidak lagi mempercepat rapat PPKI seperti Soekarno Hatta, tapi Revolusi dan merebut kekuasaan dari Jepang. Pada saat hal ini dibicarakan, Soekarno-Hatta tidak setuju, karena diperkirakan bakal jatuh korban banyak akibat revolusi (baca : perang), Selain itu Soekarno tidak mau percaya bahwa Jepang sudah kalah. Beliau menjanjikan akan bertanya kepada pihak Jepang dahulu. Karena tidak ada informasi yang akurat, termasuk penjelasan Maeda yang tidak terus terang, Soekarno-Hatta pulang dengan tangan kosong. Maka malam harinya menjelang subuh, diculiklah Soekarno-Hatta oleh para pemuda dibawah pimpinan Soekarni dan dibawa ke Rengasdengklok.
Apapun pendapat anda tentang peristiwa rengasdengklok, kejadian ini tetaplah peristiwa yang melengkapi catatan sejarah kemerdekaan Indonesia, dan tidak bisa kita pungkiri ada peran pemuda yang mempercantik catatan sejarah tersebut...

3rd WORKSHOP YOUTH CHALLANGES AND EMPOWERMENT : Acara buat para pemudayang Indonesia bangetzzz...

Salam Indonesia...(^_^)../
Hm...mungkin tulisan kali ini tidak seberat seperti yang sudah-sudah...
yups..tulisan ini hanya untuk menggambarkan sedikit pengalaman yang sudah daku dapatkan setelah mengikuti workshop pemuda yang diadakan oleh Yayasan Anand Ashram bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi Bali...bagaimana sejarah itu tercipta?? cekidot....


Pagi itu, 12 Agustus 2010...
Hujan sudah membasahi seputaran kota Denpasar sejak dini hari. Hujan itu masih berlangsung saat waktu sudah menunjukkan pukul 8.00, ketika aku sudah harus bersiap untuk meluncur ke tempat tujuanku..Gedung Nari Graha, Renon. Hari itu memang hari yang sengaja daku luangkan. Setelah mendapat undangan dari panitia, tidak butuh lama bagiku untuk mengatakan 'Iya,daku akan hadir". (meski harus melawan hujan badai sekalipun.lebay mode :on)

cerita pun berlanjut ketika daku harus benar-benar melawan hujan untuk sampai disana. Dengan sepatu yang akhirnya sedikit basah daku beranjak perlahan menuju meja registrasi. Ternyata disana juga sudah ada teman satu kampus yang mengikuti acara itu. Beruntung, tidak ada antrean padat saat itu, dan kurang dari lima menit, daku pun berhasil mendapatkan sebuah T-Shirt dan satu buku Anand Krishna.
Setelah mengganti baju, daku masuk ke dalam gedung tempat acara berlangsung. Belum terlalu banyak memang. Sekilas daku meilihat acara ini didominasi anak - anak SMA. ku tau itu lewat celana dan rok abu-abu yang mereka kenakan. Ternyata dugaanku tidak cukup tepat. setelah acara dimulai dan diikuti beberapa sambutan dari Kepala bidang Pendidikan Pemuda dan Olahraga, serta Direktur yayasan anand asrham daku baru sadar ternyata ada pula beberapa anak kuliahan yang datang kesana...



acara workshop sendiri berlangsung SANGAT MENARIK...selain materi yang santai dari ketiga narasumber yaitu mbak cica, Bli EDY (untung bukan Edy Mulyawan..hehe), serta latihan taruna yoga dari mbak Debie Sutopo, acara itu diselingi dengan beberapa lagu yang dibawakan oleh beberapa vokalis manis di atas panggung..(beruntung saat itu daku duduk di depan jadi tidak sedikit pun ada rasa ngantuk, apalagi ketika melihat manisnya wajah-wajah para penyanyi tadi..wkwkw)... Lebih tidak ngantuk laghi ketika daku bersama peserta lain disuguhi kue nagasari dan makan siang .meski sederhana..tapi cukup mengusir rasa lapar yang sempat menggangguku saat latihan yoga berlangsung..wkwkw



saat sesi diskusi, tidak banyak pertanyaan yang diajukan para peserta "hanya" tujuh (hm..tujuh bukannya sudah banyak ya? kok pake "hanya"..wkkww). bli Edy pun mengatakan bahwa beberapa pertanyaan dari peserta wayah (berat : bahasa bali-red). dan cukup beruntung daku bisa menjadi salah satu dari tujuh orang tadi. Meski tidak berlangsung lama workshop pun akhirnya ditutup dengan acara foto bersama seluruh peserta...hm...kok cepet banget ya rasanya???



Yups..meskipun terasa cepat, acara 3rd WORKSHOP YOUTH CHALLANGES AND EMPOWERMENT benar-benar manjadi sebuah acara yang cukup berkesan bagiku. Selain karena ada banyaknya perserta yang menghadiri acara ini, ada banyak pengalaman menarik yang daku dapatkan. Daku bisa lebih mengenali diri sendiri, menumbuhkan motivasi dan percaya diri dan yang pasti menambah kecintaanku terhadap INDONESIA.. apalagi dalam beberapa kesempatan sebelumnya daku juga sudah pernah bertemu dengan beberapa panitia workshop yang membuatku semakin menikmati acara ini.
Daku belum tau bagaimana kesan peserta lain mengenai acara ini, namun yang pasti acara ini benar-benar berguna untuk para pemuda dan tentunya INDONESIA bangetzz...
Terima kasih untuk Bapak Anand Krishna dan Teman-teman lain yang sudah memberi kesempatan kami untuk jadi bagian dari acara ini. semoga akan ada acara serupa di waktu mendatang sehingga lebih banyak pemuda yang sadar dengan potensinya dan bisa memberdayakan dirinya untuk memajukan INDONESIA...(^_^)..
Sekian,,,terima kasih,,,
SALAM INDONESIA...

Pemuda Partai : Antara Harapan dan Pembuktian

Oleh : I Komang Edy Mulyawan

Pemuda merupakan golongan yang aktif menyuarakan aspirasinya melalui kritik – kritik maupun gagasan bagi perkembangan sebuah partai politik. Hal tersebut juga tidak dapat disalahkan karena pendapat dan kritik mereka cukup beralasan. Paradigma dan pola pikir sebuah partai politik perlu mendapat penyegaran oleh gagasan yang lebih dinamis dari para pemuda.
Para pemuda dapat menggelorakan sebuah perubahan yang sistematis dalam tubuh partai politik. Ya, sebuah perubahan paradigma dan pola pikir yang diharapkan mampu memberi secerca harapan bagi citra partai politik di masa depan. Namun pertanyaannya, mampukah pemuda membuktikan kemampuannya dan mewujudkan harapan tersebut?
Partai politik memang diharapkan menjadi salah satu ajang pembuktian bagi pemuda untuk memberikan sebuah pembelajaran politik yang santun di mata masyarakat, setidaknya bagi golongan pemuda sendiri. Namun berkaca dari sudut pemuda, perlu disadari pula bahwa tidak semua pemuda peduli terhadap dunia politik, jangankan peduli, keinginan untuk mengenal dunia politik pun masih minim, padahal sesungguhnya berpolitik merupakan sebuah hal yang diperlukan dalam berbagai ruang lingkupnya.
Terlepas dari kekurangan tersebut, pemuda tetap menyimpan potensi dalam sebuah partai politik. Peran pemuda tentu tidak hanya berorientasi pada kata “muda” tetapi bagaimana menjadikan pemuda sebagai agent of change yang berkualitas serta bebas dari paradigma dan sistem lawas yang ada sejak dulu. Hal ini jelas tidak mudah karena butuh persiapan yang matang untuk mampu melakukan dinamisasi dan harmonisasi di tubuh partai politik.
Ada beberapa faktor yang dapat mendukung peran pemuda dalam partai politik. Faktor pertama sekaligus faktor terpenting adalah komitmen dari pemuda itu sendiri terhadap keberadaan dan pengembangan partai politik. Komitmen dan konsistensi menjadi dasar yang harus dimiliki pemuda untuk menggagas sebuah partai politik yang lebih representatif sehingga dapat menjaring konstituen dengan dukungan yang lebih besar.
Faktor kedua adalah kemampuan dan kapabilitas pemuda. Pengembangan partai politik tentu bukanlah sebuah tugas yang mudah, butuh kemampuan yang memadai serta pengalaman yang mumpuni untuk dapat memaksimalkan kinerja pemuda dalam pengembangan partai politik. Pelatihan serta simulasi menjadi ruang yang dapat digunakan oleh pemuda untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan pemahaman dan pengalaman dalam sebuah partai politik.
Faktor terakhir adalah memperbaiki sikap mental sejak dini. Perlu diingat bahwa pemuda adalah generasi yang harus dilindungi dari sistem serta kultur yang bobrok yang telah diwariskan oleh pendahulunya. Sikap mental yang bersifat self interest serta budaya korup menjadi hal yang sesegera mungkin harus dijauhkan dari pandangan pemuda, terutama dalam upaya pengembangan partai politik. Persepsi mengenai partai politik juga harus diiringi dengan pemberian solusi terhadap permasalahan yang banyak dihadapi oleh partai politik saat ini. Sebut saja masalah rekruitmen, mekanisme serta kinerja anggota parlemen masih menjadi hal yang harus dikritisi dan diperbaiki.
Pemuda perlu menyadari bahwa partai politik harus diisi oleh orang – orang yang memiliki kapabilitas dan kemampuan di bidangnya, dan itu hanya didapat melalui sebuah proses pendidikan politik sejak dini. Ini akan menjadi sebuah solusi di tengah kebiasaan para petinggi politik yang hanya main comot dalam perekrutan, apalagi ketika kepentingan uang sudah berbicara.
Daya serap terhadap aspirasi masyarakat juga diharapkan menjadi perhatian serius dalam upaya pengembangan partai politik oleh para pemuda. Kedepannya, pemuda harus mampu memberikan sebuah alternatif pembaharuan, yakni dengan tidak lagi “menjual” partai secara subyektif, melainkan “menjual” program – program yang telah dikaji melalui permasalahan yang ada di masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk menjadikan konstituen dan aspirasinya sebagai fokus utama dalam sebuah partai politik.
Bagaimanapun juga kehadiran pemuda dalam partai politik merupakan sebuah langkah kecil yang diharapkan dapat membuat sebuah perubahan besar bagi keberadaan dan perkembangan partai politik di masa mendatang. Pendidikan politik serta pelatihan – pelatihan harus secara konsisten dilaksanakan agar dapat menjadi suatu motivasi bagi pemuda untuk membuktikan bahwa peran pemuda bukan hanya sekedar wacana.
Yang muda yang berpolitik, yang muda yang diharapkan…
Pemuda Partai, ayo buktikan…!!!
[polldaddy poll=3190795]

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Macys Printable Coupons