Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Mana Lebih Baik, Alfred Riedl atau Wim Rijsbergen?

Keduanya adalah pelatih asing. Keduanya juga belum pernah memberi tropi bagi Indonesia.
Tapi dari segi kemampuan meracik tim, siapa yang lebih baik??

Di bawah ini adalah perbandingan, bagaimana pola permainan Timnas Indonesia saat dilatih oleh Alfred Riedl (Piala AFF 2010) dan Wim Rijsbergen pada Pra Piala Dunia 2014. Mana yang lebih baik?

Indonesia VS Filiphina, AFF Cup 2010
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=pRnJmHjUP4E&w=420&h=345]

Indonesia Vs Turkmenistan, Pra Piala Dunia 2014,
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=4loEvhqyaFA&w=420&h=345]

Peristiwa Rengasdengklok : Peran Pemuda yang Terselip Dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia


Tanggal 14 Agustus 1945 menjadi tanggal yang cukup bermakna terutama bagi persiapan kemerdekaan RI. Bagaimana tidak, pada tanggal inilah Pasukan Jepang menyerah tanpa syarat kepada pihak sekutu. Berita ini diketahui oleh kalangan pemuda bangsa Indonesia di Bandung, 15 Agustus 1945 melalui berita siaran radio BBC (British Broadcasting Corporation) London.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta baru saja kembali ke tanah air setelah memenuhi panggilan Panglima Mandala Asia Tenggara, Marsekal Terauchi di Saigon, Vietnam.
Nah saat inilah terjadi suatu pro dan kontra tentang waktu dan pelaksanaan proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Golongan muda menginginkan agar proklamasi kemerdekaan Indonesia cepat dilaksanakan karena hal ini merupakan hak dan masalah rakyat Indonesia sendiri tanpa bergantung pada negara atau bangsa yang lain.
Sedangkan golongan tua ingin agar kemerdekaan Indonesia dilakukan secara terencana dan terstruktur. yakni dengan adanya pernyataan dari bangsa lain berupa lampiran tanda tangan, dan sebagainya.Perbedaan pendapat inilah yang membuat para golongan muda membawa (baca : menculik) Soekarno dan Hatta (golongan tua) ke Rengasdengklok, tempat yang jauh dari jalan raya utama Jakarta-Cirebon tanggal 16 Agustus 1945. Hal ini dilakukan golongan muda agar mereka jauh dari pengaruh pemerintah pendudukan Jepang.

Sementara itu, di Jakarta terjadi perundingan antara Ahmad Subardjo (wakil golongan tua) dengan Wikan (wakil golongan muda) yang akhirnya menciptakan kesepakatan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan di Jakarta.

Setelah adanya kesepakatan tersebut, Soekarno-Hatta pun dijemput dari Rengasdengklok ke rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1 sekaligus mempersiapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia

Naskah proklamasi sendiri dirumuskan oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Ahmad Subardjo. Terjadi perdebatan dan pertimbangan mengenai kepastian isi dan redaksi naskah teks proklamasi. Selanjutnya Sayuti Melik yang mengetik sesuai dengan naskah yang telah mengalami perubahan yang telah disepakati. Penyusunan teks proklamasi berlangsung hingga tanggal 17 Agustus 1945 dini hari.

Apa yang patut kita petik dari peristiwa rengasdengklok?
Mungkin sekilas kita hanya menilai arogansi dan emosional dari para golongan muda waktu itu. namun Bagi sebagian orang, peristiwa Rengasdengklok tetaplah sebuah awal dari persiapan kemerdekaan Indonesia. Mungkin peristiwa rengasdengklok memang ditakdirkan untuk terjadi. Harus ada terselip peran pemuda dalam sejarah bangsa ini, dan salah satunya adalah lewat peristiwa Rengasdengklok.

Kita tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi sendainya peristiwa Rengasdengklok tidak ada. Soekarno-Hatta adalah ketua dan wakil ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Tanggal 12 Agustus 1945, Terauchi (pimpina Jepang diselatan) mengatakan bahwa sesuai perintah Tokyo, Indonesia akan merdeka dan waktu penyelenggaraan kemerdekaan itu tergantung pada Soekarno-Hatta kapan mau dilaksanakannya. Jadi tergantung pada bangsa Indonesia. Soekarno-Hatta berpikir penyelenggaraan itu, paling tidak setelah tanggal 20-an.

Sutan Sjahrir dan golongan pemuda yang secara tetap memonitor keadaan dunia, tahu bahwa tanggal 14 Agustua 1945, Jepang sudah kritis. Dan tanggal 15 Agustus 1945 Jepang sudah kalah dari sekutu. Artinya penguasa dunia sekarang adalah kaum sekutu termasuk juga penguasa Indonesia secara abtrak. Maka dari itu, inilah moment yang sangat penting untuk merebut kekuasaan. Skenario yang tiinginkan pemuda tidak lagi mempercepat rapat PPKI seperti Soekarno Hatta, tapi Revolusi dan merebut kekuasaan dari Jepang. Pada saat hal ini dibicarakan, Soekarno-Hatta tidak setuju, karena diperkirakan bakal jatuh korban banyak akibat revolusi (baca : perang), Selain itu Soekarno tidak mau percaya bahwa Jepang sudah kalah. Beliau menjanjikan akan bertanya kepada pihak Jepang dahulu. Karena tidak ada informasi yang akurat, termasuk penjelasan Maeda yang tidak terus terang, Soekarno-Hatta pulang dengan tangan kosong. Maka malam harinya menjelang subuh, diculiklah Soekarno-Hatta oleh para pemuda dibawah pimpinan Soekarni dan dibawa ke Rengasdengklok.
Apapun pendapat anda tentang peristiwa rengasdengklok, kejadian ini tetaplah peristiwa yang melengkapi catatan sejarah kemerdekaan Indonesia, dan tidak bisa kita pungkiri ada peran pemuda yang mempercantik catatan sejarah tersebut...

3rd WORKSHOP YOUTH CHALLANGES AND EMPOWERMENT : Acara buat para pemudayang Indonesia bangetzzz...

Salam Indonesia...(^_^)../
Hm...mungkin tulisan kali ini tidak seberat seperti yang sudah-sudah...
yups..tulisan ini hanya untuk menggambarkan sedikit pengalaman yang sudah daku dapatkan setelah mengikuti workshop pemuda yang diadakan oleh Yayasan Anand Ashram bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi Bali...bagaimana sejarah itu tercipta?? cekidot....


Pagi itu, 12 Agustus 2010...
Hujan sudah membasahi seputaran kota Denpasar sejak dini hari. Hujan itu masih berlangsung saat waktu sudah menunjukkan pukul 8.00, ketika aku sudah harus bersiap untuk meluncur ke tempat tujuanku..Gedung Nari Graha, Renon. Hari itu memang hari yang sengaja daku luangkan. Setelah mendapat undangan dari panitia, tidak butuh lama bagiku untuk mengatakan 'Iya,daku akan hadir". (meski harus melawan hujan badai sekalipun.lebay mode :on)

cerita pun berlanjut ketika daku harus benar-benar melawan hujan untuk sampai disana. Dengan sepatu yang akhirnya sedikit basah daku beranjak perlahan menuju meja registrasi. Ternyata disana juga sudah ada teman satu kampus yang mengikuti acara itu. Beruntung, tidak ada antrean padat saat itu, dan kurang dari lima menit, daku pun berhasil mendapatkan sebuah T-Shirt dan satu buku Anand Krishna.
Setelah mengganti baju, daku masuk ke dalam gedung tempat acara berlangsung. Belum terlalu banyak memang. Sekilas daku meilihat acara ini didominasi anak - anak SMA. ku tau itu lewat celana dan rok abu-abu yang mereka kenakan. Ternyata dugaanku tidak cukup tepat. setelah acara dimulai dan diikuti beberapa sambutan dari Kepala bidang Pendidikan Pemuda dan Olahraga, serta Direktur yayasan anand asrham daku baru sadar ternyata ada pula beberapa anak kuliahan yang datang kesana...



acara workshop sendiri berlangsung SANGAT MENARIK...selain materi yang santai dari ketiga narasumber yaitu mbak cica, Bli EDY (untung bukan Edy Mulyawan..hehe), serta latihan taruna yoga dari mbak Debie Sutopo, acara itu diselingi dengan beberapa lagu yang dibawakan oleh beberapa vokalis manis di atas panggung..(beruntung saat itu daku duduk di depan jadi tidak sedikit pun ada rasa ngantuk, apalagi ketika melihat manisnya wajah-wajah para penyanyi tadi..wkwkw)... Lebih tidak ngantuk laghi ketika daku bersama peserta lain disuguhi kue nagasari dan makan siang .meski sederhana..tapi cukup mengusir rasa lapar yang sempat menggangguku saat latihan yoga berlangsung..wkwkw



saat sesi diskusi, tidak banyak pertanyaan yang diajukan para peserta "hanya" tujuh (hm..tujuh bukannya sudah banyak ya? kok pake "hanya"..wkkww). bli Edy pun mengatakan bahwa beberapa pertanyaan dari peserta wayah (berat : bahasa bali-red). dan cukup beruntung daku bisa menjadi salah satu dari tujuh orang tadi. Meski tidak berlangsung lama workshop pun akhirnya ditutup dengan acara foto bersama seluruh peserta...hm...kok cepet banget ya rasanya???



Yups..meskipun terasa cepat, acara 3rd WORKSHOP YOUTH CHALLANGES AND EMPOWERMENT benar-benar manjadi sebuah acara yang cukup berkesan bagiku. Selain karena ada banyaknya perserta yang menghadiri acara ini, ada banyak pengalaman menarik yang daku dapatkan. Daku bisa lebih mengenali diri sendiri, menumbuhkan motivasi dan percaya diri dan yang pasti menambah kecintaanku terhadap INDONESIA.. apalagi dalam beberapa kesempatan sebelumnya daku juga sudah pernah bertemu dengan beberapa panitia workshop yang membuatku semakin menikmati acara ini.
Daku belum tau bagaimana kesan peserta lain mengenai acara ini, namun yang pasti acara ini benar-benar berguna untuk para pemuda dan tentunya INDONESIA bangetzz...
Terima kasih untuk Bapak Anand Krishna dan Teman-teman lain yang sudah memberi kesempatan kami untuk jadi bagian dari acara ini. semoga akan ada acara serupa di waktu mendatang sehingga lebih banyak pemuda yang sadar dengan potensinya dan bisa memberdayakan dirinya untuk memajukan INDONESIA...(^_^)..
Sekian,,,terima kasih,,,
SALAM INDONESIA...

Pemindahan Ibukota Indonesia: Kapan dan Dimana?

Pemindahan Ibukota sebenarnya bukan merupakan hal yang baru di dunia internasional. Beberapa negara seperti Amerika Serikat pernah memindahkan ibukota mereka dari New York ke Washington DC. Begitu pula dengan Australia yang memindahkan ibukota dari Sidney ke Canberra, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Jerman dari Bonn ke Berlin, serta Brazil yang memindahkan ibukotanya dari Rio de Janeiro ke Brasilia. Pada era Soekarno, Indonesia pun pernah melakukan pemindahan ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta dan Bukit Tinggi.

Pentingnya memindahkan Ibukota Indonesia.
Dengan melihat keadaan kota Jakarta sekarang, sudah sewajarnya masyarakat Indonesia berpikir realistis terhadap wacana ini. Pemindahan ibukota dari Jakarta ke kota lain bukanlah yang yang tidak mungkin dilakukan, apalagi melihat perkembangan kota Jakarta dalam beberapa tahun ke depan. Masalah urbanisasi, kemacetan lalu lintas, ancaman bencana alam, serta hal lain yang membuat permasalahan di Jakarta semakin kompleks. Saat ini saja jumlah penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diperkirakan lebih dari 23 juta jiwa. Belum lagi ditambah dengan arus kendaraan yang menuju kota Jakarta yang bisa saja membuat Jakarta "lumpuh" dalam beberapa tahun kedepan.

Wacana pemindahan ibukota hendaknya diikuti dengan pengkajian secara mendalam. Jangan sampai pilihan untuk memindahan ibukota justru terkesan meninggalkan Jakarta dengan masalahnya, melainkan bagaimana pemindahan Ibukota Indonesia mampu mendorong adanya pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia. Pemerataan yang dimaksud dapat berupa penyebaran pusat kegiatan di daerah - daerah tertentu. Sebagai contoh, Jakarta tetap dioptimalkan sebagai pusat ekonomi dan bisnis mengingat fasilitas fisik yang sudah sangat memadai. Jogjakarta dapat dijadikan sebagai kota Pendidikan, Daerah Sumatera sebagai daerah berbasis Pertanian, Bandung sebagai kota hiburan, Bali, Bangka Belitung dan Manado sebagai kota Pariwisata, Papua sebagai kota Tambang, Sulawesi dan Maluku sebagai kota berbasis Kelautan dan sebagainya. Dengan adanya kebijakan tersebut maka niscaya pembangunan Indonesia akan menjadi lebih merata.

Kapan Pemindahan Ibukota bisa terwujud?
Ketika sudah ada komitmen dan visi yang jelas, maka Indonesia sudah bisa menentukan kapan pemindahan ibukota bisa terwujud. Sebagai contoh, Negara tetangga Malaysia membutuhkan waktu kurang lebih 10 tahun untuk memindahkan ibukotanya dari Kuala Lumpur ke Putra Jaya. Bagaimana dengan Indonesia? Apabila Pemerintah memang serius untuk memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke daerah lain, maka perlu dibuat suatu rencana stategis secara bertahap mulai dari tahap pemetaan, pengaturan tata ruang, pembangunan, serta proses pemindahan itu sendiri. Setiap tahap dapat dilakukan dalam kurun waktu 2-5 tahun jika memang dibutuhkan. Tidak hanya itu, pemerintah juga harus melihat "kantong" alias dana pendukung proses pemindahan ibukota. Jangan sampai keinginan ini terbengkalai akibat kurangnya pengkajian di bidang pendanaan,apalagi proses pemindahan akan dilakukan dalam periode kepemimpinan yang berbeda (2014 sudah ada pemilu berikutnya). Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Achmad Nurmandi mengungkapkan biaya untuk membangun Palangakaraya menjadi kota yang siap menjadi pusat pemerintahan dengan menyediakan berbagai infrastruktur baik bangunan maupun jalan diperkirakan mencapai Rp100 triliun. (erabaru.net - 4 Agustus 2010)

Dimana tempat yang Stategis untuk Ibukota negara?
Beberapa daerah masuk dalam "nominasi" calon Ibukota pengganti Jakarta. Berbagai faktor penguat pun diutarakan untuk memantapkan pilihan tersebut. Daerah apa saja yang dimaksud??
1. Palangkaraya
Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, potensial dijadikan ibu kota Indonesia karena dari sisi geopolitik, geologi, dan geografis cukup strategis.secara geografis posisi Palangkaraya tepat berada di tengah Indonesia dan memiliki kondisi geologi yang relatif aman dari bencana alam. Palangkaraya cenderung aman dari gempa dan banjir dibandingkan kota lain. Dalam era pemerintahan SOEKARNO, juga pernah ada wacana untuk memindahkan ibukota Indonesia ke Palangkaraya. Secara Umum, Luas pulau Kalimantan adalah 540.000 km2 dengan jumlah penduduk hanya 12 juta jiwa. Pulau Kalimantan jauh lebih luas dibanding pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi dan jumlah penduduknya justru paling sedikit. Di pulau Kalimantan juga tidak ada gunung berapi dan merupakan pulau yang teraman dari gempa. Sementara di pesisir Kalimantan Tengah yang berbatasan dengan Laut Jawa juga ombak relatif tenang dan aman dari Tsunami. Ini cocok untuk jadi tempat ibukota Indonesia yang baru. Satu- satunya kendala terhadap daerah ini adalah kesiapan penduduk lokal. Kesiapan SDM sudah harus dirintis sejak tahap pembangunan sampai akhirnya ibukota benar-benar di pindahkan ke daerah tersebut.

2. Pontianak dan Banjarmasin.
Pontianak dan Banjarmasin merupakan dua kota yang juga di berada di Pulau Kalimantan, yang bisa dijadikan alternatif ibukota. Teguh Juwarno, Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat, menyatakan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, lebih cocok. Menurut politisi Partai Amanat Nasional itu, Banjarmasin lebih berada di tengah dan lebih siap infrastrukturnya dibanding Palangkaraya. sedangkan anggota Komisi II dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Aria Bima, menyatakan Pontianak sebagai pilihannya. "Saya sih berharap pindah ke Pontianak,” kata Bima. “Letak Pontianak itu kan pas tengah dan pusatnya Indonesia. Saya kira yang seperti sentral Jakarta dan pakubuminya, ya di Pontianak itu,” kata Aria Bima.(vivanews.com-29 Juli 2010)

3. Jonggol
Pada Era Soeharto, sudah muncul ide untuk memindahkan Ibukota ke JOnggol. Jonggol merupakan kota yang terletak di wilayah Kabupaten Bogor. Pilihan terhadap kawasan Jonggol atau Sentul karena pengembangan fungsi kawasan tersebut sebagai kawasan perkantoran pemerintahan pusat masih bisa dilakukan dengan dukungan yang cukup dari kondisi lingkungan, dan masih mudah melakukan perencanaan dan pengendalian faktor-faktor sosial, ekonomi dan politik. Kawasan Jonggol masih memiliki lahan kosong yang cukup luas sehingga memberi kemudahan untuk penataan. Disamping itu, kawasan tersebut sudah memiliki inftrastruktur dasar untuk dikembangkan dan dihubungkan dengan beberapa daerah inti di sekitarnya, seperti Bekasi, Bogor dan Jakarta sendiri. Sementara jika pilihan dijatuhkan ke kawasan Sentul, masalahnya adalah lahannya yang agak terbatas sehingga kurang leluasa membuat perencanaan untuk menjadikannya sebagai kawasan pusat pemerintahan, Namun dengan prinsip efisiensi ruang melalui metode optimalisasi ruang vertikal, kawasan Sentul masih mungkin dijadikan alternatif untuk Kawasan Perkantoran Pemerintahan Pusat. Untuk menjadikan kawasan ini menjadi Kawasan Perkantoran Pemerintahan Pusat, kebetulan pengembangan fungsi tersebut didukung oleh faktor-faktor sosial, politik, dan ekonomi. Kawasan tersebut dekat dengan Kota Bogor yang termasuk salah satu kota yang banyak menyimpan sejarah dari masa ke masa, termasuk di masa globalisasi ekonomi ini dengan diselenggarakannya pertemuan Kepala Negara-Negara APEC pertengahan Nopember 1994. Dengan status sebagai kota bersejarah, perubahan status Bogor menjadi pusat pemerintahan tidak perlu menimbulkan shock dalam proses komunikasi di masyarakat, dalam hubungan pemerintahan maupun dengan pihak luar.(forum.detik.com)

Indonesia masih memiliki banyak kesempatan untuk mengkaji daerah mana yang cocok, stategis, dan layak untuk dijadikan ibukota. Apalagi Tim Visi Indonesia sendiri masih membuka ruang bagi masyarakat yang ingin mengajukan daerah - daerah tertentu di Indonesia sebagai ibukota negara. Semua itu hanyalah masalah pilihan. Penyebutan satu atau dua kota sebagai contoh, hanya hendak menunjukkan bagaimana luasnya Indonesia. Indonesia bukanlah Jakarta, Indonesia Bukanlah Bali, Bukan pula Palangkaraya. Indonesia tetaplah Indonesia yang memiliki berbagai potensi untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. termasuk untuk pemilihan ibukota negara.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Macys Printable Coupons